Sabtu , 18 November 2017
Home / Talk / Gado-Gado / Jalan-Jalan ke Pasar Baru, Menguak Perjalanan Masa Lalu

Jalan-Jalan ke Pasar Baru, Menguak Perjalanan Masa Lalu

Pasar Baru. Foto: ist.
Pasar Baru. Foto: ist.

Jakarta, channelsatu.com: Bisajadi jalan-jalan sekaligus belanja ke Pasar Baru yang terletak di Jakarta Pusat dianggap sudah tidak gaul, mengingat di Ibukota Republik Indonesia bertebaran ratusan mal alias kawasan perbelanjaan yang tampilannya begitu trendi. Alih-alih pada bulan Desember (2016) ini, ratusan mal itu gencar menawarkan diskon akhir tahun dan tampil secara semarak untuk menarik pengunjung.

Total di Jakarta terdapat 174 mal, bahkan lebih dan jika tidak salah hitung, yang tersebar di lima wilayah.
Namun di luar jumlah ratusan mal tersebut ada satu tempat kawasan perbelanjaan yang tidak asing di telinga warga Jakarta, hanya saja kawasan perbelanjan itu seringkali dibilang tidak modern. Berbeda dengan penampilan beberapa mal yang  berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara, misalnya berpenampilan masa kini dan bersuasana urban.

Sebaliknya jangan memalingkan pandangan semata, justru kawasan perbelanjaan Pasar Baru banyak menyimpan riwayat perjalanan masa lalu. Pasar Baru ini adalah salah satu pusat perbelanjaan yang tertua di Jakarta, kira-kira dibangun sekitar tahun 1820-an.

Wow, empat tahun lagi umurnya sudah dua abad. Saya sendiri juga banyak kenangan dengan Pasar Baru ini, sering berkunjung ke toko buku Tropen yang sekarang sudah tidak ada dan membeli sepatu Sin Lee Seng, tepatnya di Jalan Pasar Baru nomor 32. Sejak mahasiswa saya membeli sepatu di toko Sin Lee Seng, tetapi sekarang sudah jarang belanja sepatu di toko itu. Terkecuali pertengahan November 2016, saya bertandang lagi ke sana.

Toko sepatu Sin Lee Seng sampai saat ini masih ada, serta suasana tokonya tidaklah berubah. Begitu masuk toko, pembeli langsung membaur, terus bisa memilih sepatu yang dikehendaki, lalu  dicoba. Apabila tidak sesuai ukuran, segera saja meminta ganti dan penjaga toko pun cepat melayani.

pasar baru tempo dulu. Foto: ist.
pasar baru tempo dulu. Foto: ist.

Toko sepatu Sin Lee Seng (nama Sin Lee Seng dipakai pula sebagai merk sepatu) demikian terkenal lantaran kualitas produknya. Sepatu Sin Lee Seng dibuat dengan tangan, tak ubahnya membuat suatu benda kerajinan sertamerta tidak diproduksi secara massal. Hal ini yang menjadikan sepatu Sin Lee Seng kuat dan tentunya nyaman dipakai, kendati dalam soal model desainnya tidak masa kini.

Saya jalan-jalan alias blusukan di Pasar Baru dari ujung jalan ke ujung jalan satunya. Selain toko sepatu Sin Lee Seng yang masih ada, saya mencatat masih ada pula toko kacamata Tjun Lie (Seis) dan Penjahit Jas Isardas. Dan yang bertahan lama di Pasar Baru adalah rumah makan bakmi Gang Kelinci yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Dulunya penjual bakmi itu berjualan dengan gerobak berlokasi di Gang Kelinci, dan kini pastinya sudah berubah kendati tetap mangkal di Gang Kelinci, menjadi restoran yang luar biasa ramai pemesan. Untuk memesan harus rela antre.

Saya tergoda jalan-jalan lagi ke Pasar Baru karena menemukan foto lama koleksi Tropen Museum Amsterdam yang terselip di lembaran buku harian. Foto lama itu, hitam putih, menggambarkan dua orang berjalan kaki, satu orang memikul barang dagangan, yang melintas jembatan menuju Pasar Baru. Tidak tahu foto itu dibuat tahun berapa.

Jelasnya melalui foto hitam putih itu, saya seperti tersihir untuk bertandang ke Pasar Baru dengan keinginan menguak masa lalu. Dalam perjalanan sejarah yang panjang itu Pasar Baru masih mempertahankan eksistensi di tengah maraknya bangunan modern yang bertingkat.

Kesan kuno memang masih melekat, dan itulah ciri khas yang musti dijaga serta jangan sampai digusur maupun dibongkar, yakni toko-toko berjejer yang tidak lain ialah pasar rakyat. Bagaimanapun Pasar Baru merupakan salah satu warisan  peninggalan dari penjajahan Belanda tepatnya di era VOC yang dulunya kawasan elite.

Pada zaman dulu Pasar Baru memang berfungsi sebagai tempat belanja dan untuk nongkrong bagi orang Belanda, bukan untuk kaum pribumi. Zaman pun berubah yang tahun 1990-an, Pasar Baru dikenal pula sebagai pusat grosir alat-alat salon dan perlengkapan kecantikan yang pusatnya di Metro Atom Plaza.

Kini, di Pasar Baru masih menjual berbagai macam barang kebutuhan sehari –hari, selain sepatu, kain, dan baju. Pokoknya dari kebutuhan yang penting sampai yang tidak penting. Yang masih bertahan juga adalah pedagang uang kuno. Mereka membuka lapak di tepi jalan. Bagi yang hobi, bisa mencari uang kuno yang sudah berumur.

Juga yang hobi fotografer, di Pasar Baru bagian belakang, banyak toko kamera. Segala jenis kamera dari yang baru dan bekas, termasuk kamera yang masih kinetik, ada di tempat itu. Demikianpun yang hobi olahraga dan musik, ada dua atau tiga toko yang menjajakan peralatan olahraga maupun beberapa toko musik.

Penjual makanan?  Tidak usah binggung. Banyak penjual jajanan pasar. Juga ada penjual makanan somay, bahkan mi kuning dengan tambahan sambal kacang. Pasar Baru memang pasar rakyat, dan suasana pun merakyat.

Pasar Baru ialah destinasi yang dikembangkan dan layak dikunjungi, banyak catatan sejarah yang tertulis di kasawan itu. Tepat di depan Pasar Baru ada Gedung Kesenian Jakarta, Kantor Pos Pusat sementara di bagian belakang ada Gereja Ayam yang terkenal pula. Dus, ayo jalan-jalan ke Pasar Baru. (Syamsudin Noer Moenadi, Jurnalis, Pemerhati Pariwisata dan Redaktur channelsatu.com).

About ibra

Check Also

Sutradara Albiner Sitompul, (mantan Kepala Biro Pers Media dan Informasi Istana Negara), paling kiri, bersama Letnan Jenderal TNI (Purn) Marciano Norman, dan istrinya, Triwatty. Didampingi Albert Indra (Produser), dan Eddie Karsito (Supervisor Produksi) paling kanan, saat beraudiensi di kediaman mantan Kepala Badan Intelijen Negara ini, di Jakarta, Jum’at (16/10/2015). Letnan Jenderal TNI (Purn) Marciano Norman, selaku Tokoh, Pelindung dan Penasehat Gabema (Perkumpulan Besar Masyarakat Tapanuli Tengah) Sibolga – Foto Istimewa.

Pementasan Drama “Jambar Ni Parsubang” Dengan Konten Kearifan Lokal Segera digelar di TIM

Jakarta, channelsatu.com: Sejarah bangsa sejak era Kebangkitan Nasional, Kemerdekaan, hingga Reformasi selalu tumbuh bersama ‘anak …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *