Selasa , 27 Februari 2024
Home / PELUANG / Industri Kreatif / Desainer Debbie Laurencia, Tak Menyangka Karyanya Tembus Manca Negara

Desainer Debbie Laurencia, Tak Menyangka Karyanya Tembus Manca Negara

Pasangan Desainer Debbie & Stephen. Foto: Ist.
Pasangan Desainer Debbie & Stephen. Foto: Ist.

Jakarta, Channelsatu.com :Istri Stephen Wongso Wong Hang Tailor, Debbie Laurencia awalnya hanya mencorat coret, mendisain apa yang ada dipikirannya, lalu dituangkan dalam sebuah lembaran kertas putih.

Ia tak menyangka berawal dari hobby, bisa menghasilkan hal positif.
Nama produknya Bebeboo story, yang kini diminati dari dalam negeri hingga manca negara. Luar biasa bukan? Dan, sekaligus bisa dicontoh generasi muda kita. Yang ingin mencari peluang usaha.

“Awal mulanya saat itu pas pandemi. Saya perhatikan itu Steven menjahitkan, bikin baju. Dari dulu saya ingin ingin mendalami berbagai mode yg aneh-aneh, yg ga masuk akal. Misalnya dulu saya main musik, di orkestra, di Indonesia orkestra itu tahun 2007 sampai 2010, ga seperti sekarang peminatnya.

Lalu saya juga ambil kelas merangkai bunga, di Indonesia bunga itu yang kita tahu, bunga papan atau as standing. Artinya belum terlalu dminati, ” kisah Debbie membuka percakapannya pada awak media di Jakarta, menyoal awal perjalanan bisnisnya.

Berikutnya Debbie mengambil kelas kaligrafi, seni menulis indah. Seperti diketahui kaligrafi ini hanya dijalani orrang yang membuat undangan perkawinan.

Perlu diketahui Ilustrasi gambar watercolor juga di Indonesia, kata Debbie belum dihargai. “Padahal Itu aset loh. Kalau di luar negeri, misal di musseum instalasi Jepang, pisang di instalasi harganya bisa mencapai 1 miliar. Pas lagi viral datang ke museum, orang datang beli, itu bentuk protes untuk politik,” jelasnya.

Desainer Debbie Laurence bangga karyanya tembus Manca Negara. Foto: Ist.
Desainer Debbie Laurence bangga karyanya tembus Manca Negara. Foto: Ist.

“Waktu pandemi saya jatuh sakit, cukup berat. Sampai saya merasa di dunia ini, apa sih yang berharga yang ga bisa dinilai oleh uang. Waktu kan kala sudah lewat ga bisa dicari lagi.

Karena suamiku ketika vakum, di rumah terus. Lalu kita merasa waktu bersama keluarga itu jadi hal luar biasa,” urainya.

Debbie pun menyadari kalau ia punya kemampuan membuat dan sekaligus mendisain baju. Ditambah lagi ia punya keahlian atau kemampuan ilusstrasi, story telling. Bercerita apa yang ia percaya. Apa lagi ia punya temen baik, namanya Krista, teman SMP yang bareng sampai dewasa suka ber imajinasi. “Imajiasi itu kan sangat kaya, seperti naga terbang. Kita ingin menghadirkan dunia imajinasi ini dalam baju,” runutnya.

Nah karena value, merasa waktu itu berharga. Time itu berharga banget. Debbie pun menuangkan hobbynya jadi sebuah produk. Ia tak peduli lagi dengan kompetitor. Prinsipnya apa yang ada dipikiran langsung tuangkan saja, dalam berkarya dan usaha.

“Ilustrasinya yang membuat partner saya, Prista Prisila dan Marendra. Mereka berdua tinggal di Jepang. Ketika mereka balik ke sini covid. Waktu covid mereka ga bs balik ke Jepang. Dan barang-barang mereka di Jepang dibuang, kerjaan mereka semua dbatalkan. Wes kita bikin ini yuk. Visi misi kita sama karena kita cinta story telling, kita ingin story telling, ada yang ingin diceritakan,” tutur Debbie awal mula rintisan usahanya dimulai.

Debbie ingin apa yang digambarkan ada impact, ada ceritanya, bisa disambungkan ke semua orang.

“Tapi yang buat aku bangga, adalah semua barang ini kainnya dipintal, semuanya produksi Indonesia. Kertasnya Indonesia.

Ilustrasinya semua dituangkan ke baju-baju. Itemnya?
Baju tangan pendek, baju tangan panjang, baju tidur, selimut, bantal, dan sarung bantal.

Bantalnya isinya khusus, didesain khusus untuk bayi. Untuk ibu-ibu menyusui juga bisa sebagai tumpuan saat menggendong. Kita multifunction pillow, jelasnya panjang lebar dan penuh semangat.

Material?

“100 persen tencel dan spandek, semua alih teknologi dari Swiss. Teknologi biasanya kan lebih sugesti beli barang dar luar negeri. Sekarang kenapa ga kita produksi semua lokal, skillnya ada, pabriknya ada, teknologinya juga ada, kita hasilkan barang-barang lokal dari desain, printing, bahan, kain, menjahit, box, pita. Labelnya pun dari Indonesia,” sambungnya.

Debbie menuturkan, kalau barang-barang kaya gini biasa buat kado, perlu didesain, itu ditulis kaligrafi. Makanya ad alimit ga semua pemberian itu, ok 1000 box. Tangannya dua. Spesial desain, bahkan kita handel beberapa orang, misal anaknya ultah kita desain khusus utk a anak itu,” lanjutnya lagi.

” Pastinya Brand yang sangat mainfull, sangat pengertian. Kalau orang beli pasti ada label, ga kita laminasi juga karena hindari plastik. Kita coba semua bahan daur ulang,” papar Debbie yang berkarya juga mengajak masyarakat peduli lingkungan yang sehat dan bersih.

Tentang Pasar?

“Aku bangga sama pak Jokowi. Jaman dulu aku buka ini belum tentu bisa bersaing. Kita berdua sebagai pekerja kreatif, merasa terbantu banget. Nomor satu pak Jokowi melarang bahan baku jadi masuk ke sini. Bahan baku mentah yang belum diproses bisa masuk, ga bisa kain gelondongan masuk ke sini. Aku sangat terbantu,” ungkapnya.

“Regulasinya ketat membuat aku bisa bangun pabrik, di pabrik bahan, bisa dapat pekerjaan, bisa aku pesen satu ton, mereka makasih kita bisa kasih makan-makan karyawan. Sebelumnya kita ga bisa bersaing kain- kain dari luar negeri.

Dari pembuatan bahan, desian sampai produksi bahan mentah kita kerjakan di umkm. Kebijakan ekspor juga dimudahkan. Aku bisa ekspor ke Singapura, Malaysia, Amerika Serikat dan Australia. Bahkan di luar negeri animonya lebih besar dibanding produk lokal. Karena kita tulis semua made in Indonesia,” tandasnya bangga.
Debbie juga menerangkan kalau ekspor mulai 2022. “Emang animonya di luar lebih besar. Kita juga bingung packaging dan deliverynya bingung karena packagingnya besar. Kita bikin trading online karena kita ga mungkin sebesar ini, kita lipat, kita vakum, kita training packagingnya seperti ini jadi saat dserahkan bentuknya secantik ini. pitanya ikatannya seperti ini. Sehingga saat diterima bentuknya sama, termasuk kaligrafinya, ” kisahnya tentang lika Lika bisnisnya. (Ja2).

About ibra

Check Also

Koleksi Nina Nugroho. Foto: Ist.

Upcycling dan Corporate Uniform Kesempatan Baru Industri Fesyen di Masa Pandemi

Jakarta, channelsatu.com: Walau kondisi perekonomian belum pulih, namun geliat ekonomi, terutama di bidang fesyen sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *