Selasa , 18 Januari 2022
Home / Showbiz / Sinopsis / SEBAGAI NEGARA MARITIM, UPAYA MENJARING WISATAWAN MELALUI KAPAL LAYAR MASIH SETENGAH HATI

SEBAGAI NEGARA MARITIM, UPAYA MENJARING WISATAWAN MELALUI KAPAL LAYAR MASIH SETENGAH HATI

Jakarta,channelsatu.com:Sebelum membicarakan lebih jauh potensi wisata kapal layar alias yacht, kiranya tidak ada salahnya membuka kembali perihal pemahaman negara maritim yang disandang Indonesia.  Wilayah laut Indonesia membentang seluas 3.302.498 kilometer persegi. Sedangkan wilayah daratannya hanya 1.890.794 kilometer persegi.

Deklarasi Djoeanda yang diluncurkan pada 13 Desember 1957, memunculkan konsep wawasan nusantara. Undang- Undang Nomor 4/60 mengenai perairan serta UNCLOS 1982, bersinggungan dengan Zona Ekonomi Eksklusif (UU Nomor 5 tahun 1983) secara internasional Indonesia disetujui memperluas wilayah lautnya.

Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) berisikan mengenai perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya, dan air di atasnya dengan batas terluar 200 mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. Jadi, predikat negara maritim itu berkaitan erat dengan kegiatan industrial, niaga dan hasil laut, termasuk kekuatan-kekuatan Angkatan Laut.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim memang memperlukan keteguhan. Setidaknya mewujudkan sekaligus merealisasikan tiap kepulauannya mandiri, maju, kuat dan berbasis kepentingan nasional. Tentang hal ini, Indonesia yang wilayahnya hampir 70 persen lautan dengan pulau-pulau berlahan subur, serta 70 persen pula  masyarakatnya mendiami wilayah pesisir, namun semuanya itu belum termanfaatkan, tidak terkecuali di bidang pariwisata.

Bagi pelaku layar, teristimewa pelaku layar dunia, Indonesia adalah destinasi yang sungguh luar biasa. Sanggat didambakan, namun kata para pelaku layar dunia sulit untuk dikunjungi. Kenapa  memiliki kesan yang demikian? Masalahnya menyangkut regulasi dan koordinasi. Jika ngomongin soal tersebut, tentu merupakan problem yang saling tali temali, kait mengait, sertamerta musti dipecahkan dan supaya tidak menjadi persoalan yang bertele-tele.

Kapal layar wisata ialah kapal layar pribadi yang dilayari oleh pemiliknya sendiri. Itulah yang dikenal dengan sebutan yacht.  Pada umumnya kapal layar wisata ini bergerak dengan kecepatan tujuh knots atau sekitar 11 kilometer perjam, dalam menjalankan pelayaran, pelaku layar bisa melakukan secara santai, namun jarang sekali melakukan pelayaran malam, kecuali lintas samudera.

Biasanya pelaku layar, disebut yachter,  akan stop alias istirahat ataupun singgah ke suatu tempat (pulau, pesisir, pelabuhan) setiap 80 Nm yang setara dengan 136 kilometer.  Di Indonesia terdapat titik labuh yacht, salah satu Pelabuhan Sabang di Nanggroe Aceh Darussalam.

Pelabuhan Sabang ini mempunyai alam yang elok, dan cukup dikenal ke mancanegara sebagai destinasi bahari kelas dunia. Pelabuhan Sabang yang berada di Pulau Weh saat inipun  berupaya dikembalikan citranya, tentunya melalui event bahari seperti Sabang Internasional Regatta, yakni lomba balap yacht internasional yang dimulai dari Phuket Thailand, singgah di Lengkawi, Malaysia dan berakhir di Sabang Aceh.

Sekalipun tidak ada  event, Pelabuhan Sabang layak menjadi tempat menepi yacht. Setiap tahun, ada lebih dari lima ribu yacht melintas di selatan Indonesia, tanpa memasuki perairan Indonesia lantaran masalah perizinan. Sementara Indonesia yang diapit Samudra Atlantik dan Pasifik dengan perairan yang terbentang dari Sabang hingga Merauke adalah gelanggang bahari yang terbesar di dunia.

Bagi yachter untuk berkunjung ke Indonesia yang mempunyai lebih dari 16.000 pulau dan apabila menyinggahi satu pulau perharinya, maka membutuhkan 16.000 hari atau sama dengan 50 tahun.  Maka tidak dapat dipungkiri kedatangan yachter itu jelas membawa berkah.

Setelah melakukan pelayaran yachter itu, pastilah menepi untuk beristirahat. Pada saat itupun yachter mengeluarkan  dana untuk keperluan macam-macam: Untuk makan, minum, jalan-jalan (bisa melakukan diving melihat taman laut yang di Pulau Weh, misalnya, memiliki terumbu karang mempesona), beli bensin, solar dan oleh-oleh. Mereka ini rata –rata membelanjakan ke masyarakat, di tempat singgah, rata-rata sekitar US$ 100-200 perhari.  Padahal dalam satu kapal layar  itu terdapat tiga orang.  Kata lain  kedatangan yachter itu membawa dampat ekonomi.

Memang, sejak tahun 2003 (sudah sebelas tahun) Indonesia berupaya menjaring wisatawan melalui kapal layar. Dimulai reli kapal layar dari Darwin, Australia menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menjadi pintu masuk ke perairan Indonesia. Para yachter  selama tiga bulan diizinkan mengunjungi beberapa destinasi wisata ke jalur Kupang, Alor, Lembata, Riung, Makassar, Bali, Karimun Jawa dan Kumai. Kemudian para yachter itu keluar dari perairan Indonesia lewat Batam.

Apa yang terjadi selanjutnya dalam upaya menggaet wisatawan melalui yacht ini?  Masih dilakukan setengah hati.  Masih dipandang sebelah mata, mungkin juga karena regulasi yang menjadi hambatan, sehingga pengembangan wisata yacht tersalip dengan wisata golf umpamanya. Di satu sisi, seperti yang ditegaskan Achyaruddin, Direktur Minat Khusus, Konvensi, Insentif dan Event, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tetap gigih  menggembangkan wisata yach ini  dan menjadi Indonesia Best Sailling Destination on Eart.
Sudah sewajarnya kegigihan itu digulirkan, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki panjang laut terbesar kedua di dunia setelah Kanada dan perlunya promosi keindahan laut (tidak hanya daratan)  yang tidak bersifat parsial alias  sesaat demi sesaat, serta  melakukan promosi lebih bersifat menyeluruh.

Tidak dapat diingkari kedatangan yacht dapat menembus keterisolasian pulau–pulau kecil yang mempunyai potensi wisata bahari, tapi sulit untuk mengakses, pasalnya keterbatasan infrastruk dan fasiltas pariwisata. Dus, di sinilah titik tolaknya, bahwa sudah saatnya pihak pemangku kepentingan menggarap promosi  wisata bahari atau marine tourism tidak dengan konsep sepenggal-sepenggal.

Keindahan laut Indonesia hendaknya  mulai detik ini sudah mulai dipromosikan secara gencar dengan saling, fishing dan diving. Apabila keindahan dan kekayaan (bawah) laut  Indonesia dipromosikan serius, bukan tidak mungkin akan menarik minat dari banyak pihak  seperti diver, sineas dan fotografer,

Semuanya itu tidak bisa dilakukan dengan berpangku tangan. Perlu lebih serius mengantisipasi kesempatan ini, terhadap pengembangan investasi, sebelum kesempatan diambil pihak asing Sejumlah negara jiran sudah cukup jeli mengembangkan wisata kelautannya. Thailand misalnya  mengembangkan wilayah Phuket sebagai pintu masuk untuk para pelayar wisata dunia.

Begitupun Singapura dan Malaysia sudah bergegas-gegas dalam mengembangkan wisata baharonya. Sekali lagi kita tidak bisa menutup mata dengan kenyataan tersebut. Bagaimanapun acara reli-reli layar internasional di Indonesia bisa mengangkat daerah terpencil maupun daerah terluar yang menjadi halaman terdepat wilayah teritorial Republik Indonesia. 

Ya, semuanya itu tentunya membutuhkan keterpaduan program antar intitusi terkait, regulasi yang jelas dan koordinasi yang rapi, supaya tidak setengah hati. (Syamsudin Noer Moenadi,jurnalis, esais dan Redaktur channnelsatu.com) .  Foto: Ilustrasi.

About ibra

Check Also

Ketum Pafindo dan Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Kebudayaan, Prof Agus Suradika

Ketum Pafindo Gion Prabowo, “Ini Bukan Pepesan Kosong”

Jakarta, channelsatu.com:”Kantor kita di Jakarta. Cari makan di Jakarta. Rumah kita di Jakarta. Tentu sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *