Kamis , 19 Mei 2022
Home / Showbiz / Film, Musik, TV / Film Aku Cinta Kamu, Diungkap 4 Sutradara Dengan Cara Berbeda

Film Aku Cinta Kamu, Diungkap 4 Sutradara Dengan Cara Berbeda

Jakarta, channelsatu.com: Film dan lagu pasangan yang tak terpisahkan, sinergis dan saling melengkapi. Banyak Festival yang kadang hanya menilai film berdasarkan genre, artis, sutradara dan lagunya seperti di Golden Globe. Berangkat dari fenomena industri film dunia yang kerap mengangkat lagu jadi film, maka Starvision bekerja sama dengan Upbeat Publishing dan Indie Picture mempersembahkan Aku Cinta Kamu.

Sebuah film yang lengkap memberi ilustrasi tentang Cinta, menjadi 4 genre karena kisahnya terinspirasi dari 4 lagu ciptaan Piyu. Begitu banyak peristiwa besar di dunia terjadi karena 1 kata Cinta, dan 4 orang Sutradara mengekspresikannya dengan style berbeda tapi justru jadi utuh sebagai sebuah tontonan, Aku Cinta Kamu.

Ekspektasi sutradara Acha Septriasa misalnya mengangkat Firasatku dari lagu ciptaan Piyu yang dinyanyikan oleh Inna Kamarie  dan Randy Pandugo. Kemudian Cinta Itu Adalah dari lagu ciptaan Piyu yang dinyanyikan Kotak. Sementara sutradara Fajar Nugros membawa kita dalam obsesi cinta yang tidak terduga. Sedangkan Piyu mengawali debutnya sebagai sutradara komedi cinta yang cerdas untuk Jernih, dari lagu ciptaannya  yang dinyanyikan Wafda Volume. Skenario Firasatku, Cinta Itu Adalah dan Jernih dikerjakan oleh Cassandra Massardi. Sedangkan dari Fajar Bustomi, kisah cinta remaja berjudul Sakit Hati dari lagu Piyu yang dinyanyikan oleh Piyu sendiri, skenarionya ditulis Angling Sagaran bicara lugas tentang penghianatan cinta.

“Menyusun genre satu ke lainnya juga butuh diskusi panjang yang menarik. Cesa David Luckmansyah sebagai editor memberi sentuhan khusus agar menonton film Aku Cinta Kamu berasa dalam kesatuan mood Cinta yang penuh kejutan. Kolaborasi dari begitu banyak kreatif menjadikan karya ini sesuatu yang istimewa bagi kita. Insya Allah, keistimewaan karya yang bertabur bintang ini pastinya jadi kepuasan penontonnya juga,” begitu harapan produser Chand Parwez.

Pemain pendukung film ini di antaranya : Acha Septriasa, Rio Dewanto, Eriska Rein, Kim Kurniawan, Giorgino Abraham, Pevita Pearce, Dimas Anggara, Manohara Odelia, Fanny Fabriana, Nina Tamam, Piyu, Martina Tesela, Mathias Ibo, Soleh Solihun, Dwi Putrantiwi, Boy Hamzah, Dina Syafira, Gofar Hilman, Lukman Sardi dan lain-lain. Untuk musik dikerjakan oleh Piyu yang sudah sangat paham emosi film in.

“saya benar-benar merasakan yang namanya jungkir balik. Merasakan lika-likunya, menjadi suatu pengalaman tersendiri. Musik dan film buat saya ibarat menurut istilah saya adalah dunia besar saya, apabila dunia kecilnya adalah main musik dan mencipta lagu. Dunia besar itulah yang menginspirasi saya untuk berkarya di dunia kecil, tutur Piyu yang kini coba keberuntungan di film.

“Film film yang saya tonton banyak yang memberikan inspirasi buat saya untuk menciptakan lagu, nah untuk kali ini saya ingin lagu-lagu saya yang akan menginspirasi sebuah karya film. Begitu banyak pilihan lagu-lagu karya saya yang bisa dipilih, untuk diangkat menjadi cerita film, di antaranya bisa menghasilkan sebuah karya film yang mudah dicerna sekaligus membawa misi hiburan yang layak bagi para penonton, Lanjut Piyu lagi.

Berangkat dari itulah saya dan pak Parwez memilih lagu-lagu yang bisa diangkat menjadi cerita film, dibantu oleh Cassandra Massardi dan Angling Sagaran untuk menuangkannya menjadi naskah film. Akhirnya kami memilih Firasatku, Cinta Itu Adalah, Sakit Hati dan Jernih. Dimana semua ini adalah lagu-lagu saya yang memang memiliki karakter dan tema yang berbeda-beda tentang cinta, kilah Piyu lagi.

Bagi Acha Septriasa ini adalah pengalaman pertama menyutradarai sebuah film berdurasi 27 menit sangat mengesankan dirinya. “Dalam segment Firasatku saya banyak andil dalam setiap department. Mulai dari unit, art, make up, wardrobe, casting director sampai pemain saya kontribusikan untuk film ini. Semua karena saya begitu mencintai story-line Firasatku,” tutur Acha.

“Karakter dan alurnya membuat saya tak berfikir dua kali utk mencoba mengarahkan cerita ini. Dalam cerita yang simple namun bermakna dibalut dengan pengadeganan yang kuat, dialog ringan dan permainan yang natural dari semua pemain membuat saya mudah menyampaikan emosi dalam film ini. Kecintaan saya pada dunia film juga saya tunjukkan dengan mencoba menyelami rasa skenario dan memainkan emosi penonton dengan irama yang bervariasi. Yang namanya cinta, pasti semua orang pernah mengalaminya, dan jika sudah berkaitan dengan seseorang yang kita cintai, entah mengapa seolah Tuhan memberikan kita firasat lebih, namun jangan sampai fiasat itu mencelakakan diri kita sendiri. Karena firasat harus selalu didasari dengan logika. Firasat bukan ‘Rasa’ yang selalu benar, Firasat bisa saja salah. Maka jangan bertindak sebelum berfikir panjang,” papar Acha tentang film besutan pribadinya ini. (ibra)

About ibra

Check Also

Kelompok Shivaband 20. Foto: Ist.

Shivaband 20 Sudah Punya 40 Stock Lagu dan Siap Diluncurkan

Jakarta, channelsatu.com:Pendatang baru grup musik, Shivaband 20 siap meramaikan industri musik Indonesia diawal 2021 ini. …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *