Rabu , 27 Mei 2020
Home / PELUANG / Inspirasi Usaha / Akhirnya, Soto Betawi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Akhirnya, Soto Betawi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Soto Betawi. Foto: Ilustrasi.
Soto Betawi. Foto: Ilustrasi.

Jakarta, channelsatu.com: Oktober 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan kuliner Gado-Gado dan Soto Betawi sebagai warisan budaya tak benda. Tentunya pilihan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat Soto Betawi (juga Gado-Gado) sudah demikian mengalayak serta  menglalang ke daerah lain. Di Surabaya, Jawa Timur, Bandung, Jawa Barat  dan Yogyakarta, banyak rumah makan yang menjajakan Soto Betawi. Termasuk di hotel berbintang di tiga kota itu.

Sekarang ini menu Soto Betawi pun begitu berinovasi dengan berbagai variasi penyajian. Sehingga ada yang menyebut Soto  Tangkar yang berkuah santan. Soto Betawi itu berisi jeroan, bahkan organ-organ lainnya seperti mata sapi, torpedo dan juga hati. Sedang kuahnya yang semula santan, tidak jarang diganti dengan susu.

Perjalanan sejarah Betawi tentu saja mempengaruhi budaya dan pola kehidupan masyarakat Betawi. Salah satunya terlihat  dari keragaman kuliner. Pengaruh tradisi Tiongkok tampak pada beberapa jenis makanan Betawi. Sertamerta dipengaruhi  budaya Arab dan setuhan budaya Eropa.

Masyarakat Betawi memiliki banyak makanan lezat. Namun beberapa di antaranya mulai punah, susah dicari. Jika ada, makanan Betawi yang langka, itupun hanya di kedai tertentu saja yang biasa berada di wilayah pinggiran, dan bersifat rumahan. Tidak seperti Soto Betawi, yang di mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, gampang sekali dijumpai.

Ciri khas hidangan Betawi adalah cita rasa gurih dan sedap. Masakan Betawi yang masih bertahan dan bisa dinikmati masyarakat, memang bisa dihitung dengan jari. Ya, beberapa di antaranya cukup populer yaitu Soto Betawi, Nasi Uduk dan Nasi Ulam. Tidak diingkari tidak sedikit orang bukan asli Betawi yang menjual sajian khas Betawi itu.

Asal muasal Soto Betawi adalah menu makanan orang Tionghoa. Dulu, di daerah pecinan yakni di Glodok sekitarnya (wilayah Jakarta Kota) dan Taman Hiburan Rakyat Lokasari, Jakarta, banyak rumah makan menawarkan menu Soto Betawi. Entah sejak kapan makanan Soto Betawi itu mulai hadir di Betawi. “Waktu kecil, saya sudah mendengar cerita tentang Soto Betawi yang cikal bakalnya dibawa warga Tiongkok,“ kata Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi kepada channelsatu.com, akhir Oktober 2016, yang merasa gembira dan bahagia bahwa Soto Betawi dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda.

Sampai sekarang di daerah Glodok dan di Taman Hiburan Rakyat Lokasari, Jakarta, berdasarkan pengamatan channelsatu.com awal November 2016, masih banyak rumah makan yang menyajikan menu Soto Betawi. Hanya saja, sekarang penyajiannya berbeda dengan awal keberadaan Soto Betawi. Dulu berisi daging babi, sekarang isinya daging sapi.

Semenjak warga asli Betawi banyak menjual menu Soto Betawi, maka daging babi diganti sapi. Dapat dimengerti karena warga asli Betawi ialah masyarakat Muslim yang perlu digarisbawahi bahwa haram hukumnya memakan daging babi. Semenjak itu pula Soto Betawi mulai berisi jeroan sapi, babat, lidah dan terpedo, yang tidak diingkari berkolesterol tinggi.

Sejarah mencatat, channelsatu.com menelisik di Taman Hiburan Rakyat Lokasari, Jakarta, adalah sosok bernama Lie Boen Po  yang mempopelerkan nama Soto Betawi. Kuah Soto Betawi aslinya memang santan yang rasanya sungguh gurih, berbeda dengan soto lain. Kuah pada soto ini dicampur dengan minyak sayur, dan kaldu daging sapi.

Isinya sendiri berupa irisan daging sapi, paru, dan jeroan yang sudah direbus, bersama lengkuas, sereh, daun salam, dan garam. Soto Betawi biasanya disajikan dengan emping melinjo sambal serta disiram  air lemon, jeruk, supaya rasanya lbih segar. Mengenai Soto Batawi, saya punya langganan lama yakni di Rumah Makan Soto Betawi H. Umar Idris di Jalan K>S. Tubun , Jakarta Pusat berhadapan dengan Hotel Santika.

Sampai sekarang rumah makan Soto Betawi H. Umar Idris masih ada dan tidak berubah bentuk desain kedainya. Saya menyambangi untuk makan siang akhir November 2016, dan tetap merasakan cita rasanya tidak berubah, tetap lezat. Soto Betawi Haji Umar Idris sudah dijajakan sejak tahun 1960.

Bagi saya Soto Betawi Haji Umar ini berbeda dengan Soto Betawi lain, yaitu tidak menggunakan potongan tomat dan kentang goreng. Ya, seperti dulu lima belas tahun lalu juga begitu. Selain itu, yang tidak kalah menarik ialah pengunjung dipersilahkan memilih sendiri potongan daging dan jerohan rebus berbumbu yang diinginkan.

Kiranya sudah sepantasnyalah Soto Betawi ditetapkan sebagai kuliner warisan budaya tak benda. Pada saat inilah kebangkitan kuliner lokal. Sapatutnya pula jika menjaganya warisan tersebut, supaya tidak punah dan  masyarakat tidak hanya menyukai makanan import alias makanan Barat. (Syamsudin Noer Moenadi, Jurnalis, Pemerhati Kuliner dan Redaktur channelsatu.com.

About ibra

Check Also

Avnos hadir di Indonesia. Foto: ibra.

ACA Pacific Resmi Menjadi Distributor Avnos di Indonesia

Jakarta, channelsatu.com: ACA Pacific Indonesia telah resmi menjadi distributor perusahaan perangkat lunak asal UK, Avnos …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *