Minggu , 17 Oktober 2021
Home / Showbiz / Film, Musik, TV / Mereka Bicara Film Perahu Kertas

Mereka Bicara Film Perahu Kertas

Jakarta, channelsatu.com: “Film Perahu Kertas, yang diangkat dari novel best seller berjudul sama, kami yakin, adalah salah satu film yang sedang ditunggu-tunggu oleh publik Indonesia. Dee, penulis novel Perahu Kertas saat ini adalah salah satu novelis paling terkemuka Indonesia, yang buku-bukunya senantiasa diminati oleh pembaca,” jelas Chand Parwez Servia (produser Starvision) soal pilihan film barunya berjudul Perahu Kertas besutan Hanung Bramantyo ini.

Bisa dikatakan Film Perahu Kertas adalah hasil kerjasama yang ideal. Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film adalah rumah produksi yang telah menelurkan film-film terkemuka di Indonesia. Hanung Bramantyo bertindak sebagai sutradara, dan Dee terjun langsung menulis skenario film ini.

Tentu Dee punya alasan mengapa untuk menulis sendiri skenario filmnya disampaikan tatkala membicarakan penerbitan novel dengan penerbit Bentang Pustaka (Kelompok Mizan).  Niat ini disambut dengan sangat baik. Selain yakin bahwa Dee pasti mampu menulis skenario, dia tentu saja orang yang paling mengetahui secara persis semesta di mana Keenan, Kugy, Remi, Luhde, Wanda dan karakter-karakter lain dalam novel Perahu Kertas itu hidup. Dee pula yang menciptakan lagu tema Perahu Kertas, yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda.

“Bertemu langsung dengan Hanung Bramantyo adalah momen di mana saya menemukan titik yakin pada kali pertama. Muncul intuisi bahwa film ini berada di tangan yang tepat. Sebuah novel yang dijadikan film selalu mengemban beban ekstra besar. Ibarat orang kalah sebelum tempur, film berbasiskan novel sejak detik pertama akan berperang dengan film yang duluan ada di teater khayal pembaca. Mereka punya Kugy sendiri, Keenan sendiri, yang kemungkinan besar tidak pernah bisa persis sama dengan yang kami gambarkan. Hanung tahu itu. Saya tahu itu. Semua pemain pun memahaminya,” ungkap Dee ketika gagasan ini akan difilmkan.

“Saya dan Hanung cukup sering berdebat dan berdiskusi, hingga sampailah saya pada kesimpulan: ini adalah Perahu Kertas yang berbeda. Sebagai penulis, saya harus rela menanggalkan Perahu Kertas dalam benak Dee, dan mulai mengapresiasi Perahu Kertas dalam benak Hanung Bramantyo dari Dapur Film, dalam benak Chand Parwez dari Starvision, atau Putut Widjanarko dari Bentang Pictures. Berbeda bukan berarti salah. Berbeda malah bisa jadi lebih indah. Yang paling penting adalah, kerelaan kita untuk berhenti memerangkannya dengan wujud ideal dalam kepala kita semata dan mulai mengapreasi versi orang lain,” Dee dalamproses pergulatan batin yang dalam pembuatan film yang diadopsi dari novelnya.

“Inilah barangkali yang ingin saya bagi ke pembaca, calon penonton Perahu Kertas versi film. Relakskan benak Anda, mari melihat wujud Perahu Kertas yang mungkin berbeda, tapi simaklah spiritnya. Spirit Perahu Kertas sama dan tidak berubah. Kisah ini bercerita tentang perjalanan hati, transformasi, dari “aku yang memilih” menjadi “aku yang dipilih”. Kisah ini adalah refleksi perjalanan kita semua, yang dengan porsi dan waktunya masing-masing, akhirnya belajar berdamai dengan hidup”, tuturnya lagi.

“Ketika diundang melihat preview pertama kali, dan lagu Perahu Kertas berkumandang di tengah film, saya tak sanggup menahan tangis. Saya menyadari rampungnya sebuah siklus. Diawali dari alam abstrak tempat saya menciptakan kisah Kugy dan Keenan, kini saya duduk sebagai penonton. Membiarkan mereka yang berbicara tentang kisah Perahu Kertas kepada saya. Apa pun parameter kesuksesan yang dipakai untuk menilai film ini kelak, ia telah berhasil menyentuh hati saya. Untuk itu, tergenapilah sudah. Saya akan keluar dari gedung bioskop dengan senyum lebar,” tandasnya. 

Hanung Bramantyo menawarkan konsep penyutradaraan yang relatif berbeda dengan film-film dia sebelumnya. Ia kemudian mengeksekusi konsep itu dengan sangat baik, dengan pengambilan gambar di Jakarta, Bogor, Bandung, dan Bali. Dan ketika semua potongan gambar itu direkatkan oleh editor Cesa David Luckmansyah, durasi total cerita film Perahu Kertas lebih dari 4,5 jam. 
“Secara bercanda, kami menyamakannya dengan proses tatkala film Kill Bill yang disutradarai Quentin Tarantino juga dibagi menjadi dua bagian. Dalam film Perahu Kertas, bagian pertama adalah kisah tentang hati, sedangkan bagian kedua berkisah tentang cinta sejati,” timpal Parewz lagi.

“Membuat film adaptasi novel merupakan tantangan? Awalnya ya, tapi kemudian menjadi hal yang biasa. Bahkan sudah memuakkan buat saya. Kenapa?,” cetus Hanung. Lo?

“Penonton film adaptasi novel adalah pembaca novel. Mereka datang ke gedung bioskop tidak sekedar  menonton film; Mengapresiasi ceritanya, alur, konstruksi dramatik, cinematografy ataupun acting aktor aktrisnya. TAPI, Penonton datang ke bioskop untuk melakukan kroscek,” kilahnya.

“Penonton menjadi polisi yang melakukan investigasi sekaligus hakim bagi filmnya. ‘apakah filmnya sesuai dengan novel yang saya baca?’, ‘apakah pemainnya sesuai  bayangan saya?’, ‘apakah lokasinya se-eksotis yang saya imajinasikan?’, ‘apakah alur ceritanya berubah?, ‘Jangan-jangan bagian ini dibuang, atau … oh tidak. Rupanya ada tokoh atau lokasi  yang sebetulnya tidak ada di novel, tapi kenapa … ??? OH!!!!’,” terangnya lagi.

“Karena untuk kesekian kalinya, saya berkutat dalam kondisi itu.  Seperti halnya karya novel lainnya, sebutlah Jomblo, Ayat-Ayat Cinta, ataupun Perempuan Berkalung Sorban, Perahu Kertas berada dalam situasi yang sama. Yaitu sama-sama cerita yang diminati pembaca. Dengan begitu, ada asumsi kuat bahwa ketika karya tersebut di- filmkan, maka akan mendatangkan banyak penonton di gedung bioskop. Kondisi ini mendadak menjadi sangat ideal.  Faktanya memang film-film yang berangkat dari Novel selalu laris manis di pasaran. Fakta ini pula yang pada akhirnya menjadi jawaban atas kondisi film Indonesia yang saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan dari penontonnya sendiri<‘ sungutnya.

“Well, mari kita bicara tentang film adaptasi ini. Ketika saya membaca Perahu Kertas, saya seperti berada dalam mesin waktu yang diputar mundur saat saya masih kuliah. Seiring dengan waktu yang kadang berjalan tak beraturan, saya masuk dalam perasaan-perasaan yang dulu pernah hinggap. Saya melaju menyusuri memori-memori lama. Tentang cinta, hubungan, kesetiaan, keterbukaan, kejujuran atas perasaan-perasaan sendiri,” paparnya.

Menggarap sebuah memori membawa saya pada pergulatan baru. Gairah baru sebagai pekerja film muncul. Dikenal sebagai seni membingkai, Film sejatinya juga sebuah upaya untuk men-dokumentasi-kan peristiwa.  Dari sana saya memaknai peristiwa-peristiwa itu sebagai memori masa lalu. Maka tidak ada upaya dramatisasi apapun dalam film ini. Semua mengalir begitu saja,”lanjutnya.

“Begitulah, Perahu Kertas hanyut di atas aliran waktu saya.  Hingga tidak sampai hati saya memotongnya. Maka jadilah dalam sejarah filmografi saya, membuat Film Sequel dalam sekali waktu shooting. Perahu Kertas terbagi menjadi dua bagian. Dua bagian itu sama-sama menjadi memori yang sama pentingnya buat saya,’ akunya.

Perahu Kertas akan berlayar pada libur lebaran tahun ini. Tepatnya mulai membuang sauh dan tayang di bioskop pada tanggal 16 Agustus 2012. Bagian kedua, seperti kata pepatah jika tidak ada ombak badai menghadang, akan berlayar dua bulan kemudian.

Seperti novelnya yang diterima amat baik oleh pembaca Indonesia, kami optimis film Perahu Kertas mendapatkan apresiasi dan sambutan yang amat baik pula dari pernonton film di Indonesia.
(ibra)

About ibra

Check Also

Suasana prescon launching film DVD Shaun The Sheep The Movie: Farmageddon. Foto: DSP.

Dari Meulaboh Sampai Papua, DVD Film Shaun The Sheep The Move: Farmageddon Sudah Hadir di CFC

Jakarta, channelsatu.com: Sequel terbaru dari film Shaun The Sheep, dengan judul : Shaun The Sheep …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *