Senin , 3 Oktober 2022
Home / Showbiz / Selebriti / Buat Film, Masalah Alat Nomor Dua. Modal Boleh Cekak, Asal Ceritanya Bagus

Buat Film, Masalah Alat Nomor Dua. Modal Boleh Cekak, Asal Ceritanya Bagus

FFI  JAMBI 3Jambi, channelsatu.com: Setelah Serang, giliran Jambi menjadi tuan rumah acara Road Show FFI 2014 ke 7 Kota’. Empat film (1 film bioskop dan 3 film pendek) diputar di Taman Budaya Jambi yang mendapat apresiasi tinggi dari penonton. Ratusan siswa, pegiat film dan pengamat budaya dari Jambi memadati TBJ dengan tertib dan disiplin.

Kebetulan, 4 film yang diputar belum pernah tayang di bioskop XXI di Jambi. Ke empat film tersebut adalah ‘Selamat Pagi Malam’, ‘Love in Paper’, ‘Lembar Jawaban Kita’ dan ‘India-Tionghoa’.

Sekali-sekali terdengar suara tawa dari penonton, misalnya ketika ada adegan komikal di film ‘Love in Paper’ dan ‘Lembar Jawaban Kita’. Bahkan ketika mencuat adegan ranjang yang terasa lucu dan unik di film ‘Selamat Pagi Malam’ yang sudah disensor sebanyak 7 titik oleh LSF, tak urung penonton ikut terpingkal-pingkal.

Usai pemutaran film, digelar diskusi. Tampil moderator Ratna Dewi dari Seloko Institute Jambi. Nara sumber yang dihadirkan oleh Panitia FFI 2014 di Jambi adalah Samaria Simanjuntak (produser ‘Selamat Pagi Malam’) dan Gabriela Dhillon, sutradara film pendek ‘India-Tionghoa’.

Ratna Dewi menjelaskan, ternyata Jambi memiliki beberapa orang terbaik dan berprestasi di dunia film. Misalnya aktris Christine Hakim yang lahir di kota Kuala Tungkal, Jambi dan dialah satu-satunya artis Indonesia yang menggaet 5 piala Citra. Kemudian, ada Ahmad Nungcik (AN) Alcaff yang pernah terpilih sebagai aktor pemeran pria terbaik dalam FFI 1955 (pertama, saat itu masih bernama Pekan Apresiasi Film Nasional). Nama AN Alcaff mencuat kembali ketika film yang dibintanginya yaitu ‘Lewat Jam Malam’ dengan sutradara H. Usmar Ismail direstorasi di Singapura dan tayang ulang di sejumlah bioskop di Indonesia.

Dalam sejarah FFI, Jambi pernah dijadikan lokasi pengambilan gambar untuk beberapa film nasional. Tercatat film ‘Intan Perawan Kubu’ dan ‘Sokola Rimba’ yang disutradarai Riri Riza dan diikutkan dalam FFI tahun ini. Film ‘Sokola Rimba’ yang dibintangi Prisia Nasution bahkan menggaet beberapa pemain anak-anak dari Suku Anak Dalam dari hutan pedalaman di Jambi.

Tapi, kenapa sekarang Jambi sepi dari syuting film nasional?

“Dibutuhkan komitmen untuk membuat film. Pesan saya, buatlah orang bahagia ketika menonton film karya kita,” ungkap Samaria Simanjuntak yang sebelumnya pernah menyutradarai film ‘Cin(t)a’ dan ‘Demi Ucok’ memberikan tips sederhana membuat film.

Sedangkan Gabriella Dhillon menegaskan, membuat film harus dengan hati. “Masalah alat nomor dua. Modal boleh cekak, asal ceritanya bagus. Yang penting buat film pendek dulu yang biayanya murah. Kini banyak anak SD dengan kamera HP bisa membuat film pendek yang ceritanya bagus,” tutur Gaby, sapaan akrab Gabriealla Dhillon, yang tahun ini lulus dari jurusan film Multi Media Nusantara di Serpong.

Ketika ada seorang pelajar putri bertanya apakah Pemerintah Pusat memerhatikan dan bisa mendanai pembuatan film pendek dan film dokumenter yang aktif dibuat oleh pegiat film dari komunitas-komunitas film yang tumbuh subur di Jambi, Lulu Ratna dari Panitia FFI 2014 menjelaskan, untuk mengembangkan film juga dibutuhkan jaringan.

“Di Jawa, kalau orang film di Jogjakarta bikin, sineas muda lain dari Solo dan Semarang datang. Begitu juga di tempat lainnya. Membuat film jangan dibuat susah dulu. Bagi pemula, buat film yang baik dulu. Film pendek dan film animasi kini lagi marak,” jawab Lulu Ratna.

Anton Octavianto selaku Ketua Forum Film Jambi yang merupakan EO lokal Road Show FFI 2014 menegaskan harus ada ide atau tema yang akan disampaikan dalam pembuatan sebuah film.

“Dalam membuat film atau karya seni apapun, pasti ada ide atau gagasan yang dititipkan. Nonsens kalau enggak ada ide, nanti enggak ada yang nonton,” demikian Anton menegaskan.

Setelah di Jambi mendapat apresiasi positif, roadshow FFI 2014 di Bandung lebih semarak lagi. Bisa disebutkan Bandung benar-benar jadi lautan pengunjung.

Dalam acara ‘roadshow FFI 2014’ yang digelar di Ruang Pameran Tetap Museum Konperensi Asia Afrika (KAA), jalan Asia Afrika nomor 65, Bandung, Sabtu (15/11), pengunjung membludak. Akibatnya penonton terpaksa dibatasi dan pintu ditutup demi kenyaman peserta yang lebih awal sudah hadir.

“Ini demi kenyamanan pengunjung. Kalau enggak dibatasi kursinya, bisa-bisa jumlahnya membludak. Ini diluar perkiraan kami,” kata Gorivana Ageza dari Sinesofia Universitas Parahiangan Bandung yang juga selaku Penanggung Jawab Roadshow FFI 2014 di Bandung.

Adapun film yang diputar ada 4 judul yaitu ‘Tabula Rasa’ (film bioskop), ‘Penderas dan Pengidep’ (dokumenter) karya Achmad Alfie, ‘Pret’ (animasi) karya Firman Widyasmara dan ‘Gula Gula Usia’ (pendek) karya Ninndi Raras. Pengunjung terdiri atas komunitas film, kampus dan masyarakat umum.

Kemudian, pukul 16.00 dilanjutkan dengan diskusi film dengan film maker Adriyanto W. Dewo (sutradara ‘Tabula Rasa’) dan Ninndi Raras (sutradara ‘Gula Gula Usia’). Di sesi pertama yang dipandu oleh Tobing, berbagai pertanyaan dan pernyataan kritis mencuat.

Adriyanto W. Demo berharap semoga spirit kota Bandung sebagai kota KAA dapat menjadi inspirasi bagi insan film nasional untuk bangkit dan menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi, memiliki nilai budaya dan edukasi  serta dapat bersaing secara global.

Gorivana Ageza atau yang akrab dipanggil Aza menuturkan, acara road show FFI 2014 terbuka untuk umum dan gratis. “Dengan adanya kegiatan semacam ini, kami berharap agar festival ini bisa menjadi perayaan yang melibatkan publik secara lebih luas,” kata Aza.

Ditegaskannya, apalagi setelah satu dekade sejak diadakan kembali tahun 2004, FFI masih dirasakan hanya milik lembaga perfilman. “FFI kala itu lebih terasa seperti acara gegap gempita daripada acara yang memberi dampak luas dan dirayakan di seluruh negeri. Untuk itu, rangkaian roadshow dilakukan menjelang acara puncak FFI 2014,” beber Aza.

Lokasi Museum KAA dipilih terkait alasan historis, yaitu keberadaan bioskop Concordia di masa lalu serta peristiwa KAA yang telah menggagas perjuangan melawan kolonialisme dengan menggunakan seni budaya (film dan sastra).

“Alhamdullilah tujuan kami tercapai dimana pengunjung yang datang didominasi masyarakat umum,” tandas Aza. (pik). Foto: Ist.

About ibra

Check Also

Bus Om Bebek, Film Anak Pertama Setelah Bioskop Dibuka Kembali

Jakarta, channelsatu.com: Saat bioskop kembali dibuka dan anak-anak diperbolehkan nonton film, ini jadi moment yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *