Ekonomi Asia Tenggara Diproyeksikan Tumbuh 4,8 Persen per Tahun hingga 2035

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Enam negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara atau SEA-6, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,8 persen per tahun sepanjang 2026 hingga 2035.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan From Tailwinds to Trade-Offs: Southeast Asia Outlook 2026–2035 yang disusun Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners. Laporan edisi ketiga itu menggabungkan perspektif ekonomi, bisnis, dan kebijakan publik mengenai arah perekonomian kawasan dalam satu dekade mendatang.

Pertumbuhan SEA-6 diperkirakan ditopang oleh investasi asing dan pembentukan modal yang berkelanjutan, industrialisasi serta pembangunan infrastruktur, dan peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi. Konsumsi domestik yang relatif tangguh serta struktur demografi di sejumlah negara juga menjadi faktor pendukung.

- Advertisement -

Namun, laporan tersebut mencatat bahwa jalur pertumbuhan masing-masing negara mulai semakin beragam. Perbedaan kekuatan institusi, ketahanan energi dan kesiapan teknologi dinilai akan menentukan kemampuan setiap negara menghadapi guncangan sekaligus menangkap peluang baru.

Ravi Vijayaraghavan, Senior Partner di Bain & Company, mengatakan proyeksi pertumbuhan 4,8 persen hingga 2035 masih dapat dicapai, meski angka rata-rata kawasan menyembunyikan perbedaan kondisi di masing-masing negara.

“Proyeksi pertumbuhan 4,8 persen Asia Tenggara hingga 2035 tampak dapat dicapai, meskipun rata-rata kawasan menyembunyikan narasi yang sangat berbeda,” ujar Ravi dalam keterangan laporan tersebut.

Menurut laporan itu, ekonomi SEA-6 tumbuh rata-rata 5,1 persen pada 2024 dan 2025. Capaian tersebut berlangsung di tengah meningkatnya persaingan Amerika Serikat dan China, penguatan proteksionisme serta perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

- Advertisement -

Di balik pertumbuhan agregat tersebut, terdapat perbedaan cukup lebar. Vietnam mencatat pertumbuhan 7,5 persen selama 2024–2025, sementara Thailand berada di level 2,7 persen. Laporan menilai perbedaan tersebut menunjukkan semakin beragamnya lintasan pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Untuk periode 2026–2035, laporan juga memperkirakan rentang hasil ekonomi semakin melebar. Dalam skenario yang kurang menguntungkan, Indonesia, Filipina dan Thailand disebut memiliki eksposur lebih besar terhadap sejumlah risiko, sedangkan Malaysia, Singapura dan Vietnam memiliki ruang kenaikan yang lebih besar dalam kondisi yang lebih mendukung.

Arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) juga menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi kawasan. Arus masuk bersih FDI ke SEA-6 meningkat 25 persen pada 2025, ketika arus masuk FDI ke China justru mengalami penurunan 34 persen. Namun, laporan mengingatkan bahwa investasi tersebut semakin terkonsentrasi pada sejumlah pusat ekonomi dan sektor tertentu.

Aktivitas perdagangan juga menjadi penghubung penting antarnegara. Volume perdagangan SEA-6 sepanjang 2016–2025 setara dengan sekitar 89 persen dari PDB kawasan, lebih dari dua kali rata-rata global. Kondisi tersebut membuat perekonomian negara-negara Asia Tenggara saling terhubung melalui perdagangan, investasi dan rantai pasok.

Laporan juga menyoroti bahwa peningkatan ekspor yang belakangan didorong sektor elektronik dan infrastruktur terkait AI belum sepenuhnya menghasilkan peningkatan produktivitas yang merata di seluruh perekonomian. Karena itu, kemampuan mengubah investasi teknologi menjadi produktivitas menjadi salah satu tantangan penting kawasan.

Singapura dalam laporan tersebut disebut memiliki ketahanan yang relatif tinggi karena didukung status safe haven, kedalaman pasar, penyangga fiskal serta kredibilitas sebagai trusted hub regional. Negara tersebut juga menarik lebih dari 60 persen FDI kawasan dan menjadi salah satu pusat modal regional ASEAN.

Hans Vriens, Founder and Managing Partner Vriens & Partners, menilai pilihan kebijakan pemerintah semakin berpengaruh terhadap perbedaan kinerja ekonomi antarnegara Asia Tenggara.

“Pilihan kebijakan menyumbang bagian yang semakin besar terhadap perbedaan kinerja saat ini dan prospek masa depan,” kata Hans Vriens.

Menurut laporan tersebut, terdapat tiga prioritas yang perlu mendapat perhatian untuk mendukung pertumbuhan kawasan, yakni memperkuat ketahanan institusi, meningkatkan sistem energi dan menangkap potensi keuntungan ekonomi dari AI atau AI dividend.

Ketahanan institusi mencakup tata kelola, supremasi hukum, stabilitas fiskal dan pendalaman pasar modal. Faktor-faktor tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan investor, mempertahankan modal dan mendukung pelaksanaan kebijakan.

Di sektor energi, laporan menekankan pentingnya ketersediaan energi terbarukan yang layak secara finansial serta jaringan listrik yang andal. Infrastruktur energi yang kuat diperlukan untuk mendukung ekspansi industri dan kebutuhan komputasi yang meningkat seiring perkembangan AI.

Sementara dalam pemanfaatan AI, negara-negara Asia Tenggara dinilai perlu bergerak dari tahap uji coba menuju adopsi dalam skala perusahaan. Hal tersebut membutuhkan tata kelola data yang kredibel, infrastruktur komputasi serta pengembangan tenaga kerja.

Perbedaan kondisi ekonomi tersebut sekaligus meningkatkan pentingnya kerja sama regional. Tingginya intensitas perdagangan, ketergantungan pada FDI, keterhubungan rantai pasok serta paparan terhadap perubahan energi dan teknologi membuat ketahanan ekonomi kawasan tidak hanya bergantung pada kebijakan masing-masing negara.

Sejalan dengan rencana Singapura memegang Keketuaan ASEAN pada 2027, laporan tersebut menekankan pentingnya menjaga Asia Tenggara tetap terbuka, terhubung dan menarik bagi investasi. Proyeksi pertumbuhan rata-rata 4,8 persen hingga 2035 dinilai dapat dicapai, tetapi membutuhkan kebijakan dan pelaksanaan yang mendukung dalam beberapa tahun ke depan. ich

Read more

NEWS