Jakarta, Channelsatu.com – Persiapan menghadapi masa tua dinilai perlu dilakukan sejak seseorang masih berada pada usia produktif. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian DBS Foundation melalui riset “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?”.
Riset yang diluncurkan di Jakarta tersebut melihat kesiapan Indonesia menghadapi perubahan demografi sekaligus mengidentifikasi sejumlah tantangan yang dapat muncul ketika jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kesiapan finansial. Meskipun tingkat inklusi keuangan masyarakat usia 18-50 tahun sudah berada pada kisaran 93,5-95,1 persen, kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih relatif rendah, yakni 5,37 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa memiliki akses terhadap layanan keuangan belum otomatis membuat masyarakat siap menghadapi masa pensiun. Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan perencanaan jangka panjang menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, persiapan masa depan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan setiap individu.
Untuk membantu masyarakat membuat perencanaan yang lebih konkret, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation menghadirkan Retirement Goal Calculator sebagai bagian dari kelanjutan kampanye “Pensiun Gak Susah”.
Melalui kalkulator tersebut, masyarakat dapat membuat gambaran kebutuhan finansial berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran, gaya hidup, inflasi, serta asumsi imbal hasil investasi. Dengan demikian, perencanaan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Namun, kesiapan menghadapi masa tua tidak hanya berkaitan dengan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan. Pendidikan, keterampilan, kesehatan dan kemampuan beradaptasi juga menjadi faktor yang menentukan kualitas hidup seseorang di masa depan.
Hal senada disampaikan Cinta Laura Kiehl, Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation. Menurutnya, kemandirian di masa depan juga dibangun melalui kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.
“Kemandirian di masa depan dibangun dari keinginan untuk terus belajar,” ujar Cinta.
Melalui Cinta Laura Foundation, ia juga mendorong mahasiswa tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tetapi memiliki kemampuan tambahan seperti kepemimpinan, komunikasi, literasi keuangan, pemecahan masalah dan kesiapan karier.
Sementara itu, DBS Foundation terus mendorong penguatan ketahanan sosial dan finansial masyarakat lintas generasi. Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD26 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 180 social enterprises dan Businesses for Impact di Asia.
Di Indonesia, dukungan tersebut telah mencapai lebih dari SGD4 juta kepada 25 penerima hibah. Program-program tersebut mencakup berbagai bidang, antara lain pendidikan, keterampilan kerja, kesehatan dan penghidupan inklusif.
Melalui pendekatan tersebut, persiapan menghadapi masyarakat menua diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Kolaborasi pemerintah, sektor swasta dan masyarakat diperlukan agar perubahan demografi dapat dihadapi dengan kesiapan sosial dan finansial yang lebih kuat. ich
