Kota Tangerang, Channelsatu.com – Hari Jumat di Masjid Al Muhajirin, Kunciran Indah, Kota Tangerang, terasa berbeda. Usai salat berjamaah, warga tidak buru-buru pulang. Mereka memilih bertahan, ingin berjumpa dengan sosok yang selama ini mereka kenal hanya lewat seragam, Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Dr. Raden Muhammad Jauhari.
Kegiatan Jumat Keliling dan Jumat Curhat yang digagas kepolisian ini menghadirkan suasana hangat. Tak ada jarak, tak ada podium tinggi. Kapolres duduk bersila bersama jamaah, mendengar satu per satu suara hati yang mungkin jarang tersampaikan.

Ketua RT 06 mengungkap keresahan warga tentang motor tanpa plat nomor. Bukan hanya sekadar pelanggaran lalu lintas, tetapi simbol keresahan yang setiap hari mereka saksikan. “Kami ingin lingkungan aman, Pak,” ucapnya, yang langsung disambut anggukan Kapolres.
Giliran Sunaryo berbicara, nada suaranya membawa suasana lebih hening. Ia menceritakan pengalamannya melapor kehilangan barang yang tak jelas tindak lanjutnya. Ia juga menyinggung tawuran pelajar yang kerap terjadi, dengan nada khawatir seolah sedang berbicara tentang anaknya sendiri.

Kapolres menatapnya lekat, lalu menjawab dengan kalimat sederhana namun menenangkan. Ia berjanji menertibkan motor tanpa identitas, mengawal laporan hingga selesai, dan turun langsung memberikan edukasi bersama sekolah serta orang tua. Di matanya, keamanan bukan hanya soal patroli, tetapi juga soal merangkul generasi muda agar tak salah arah.
Momen itu menghadirkan kehangatan. Warga merasa lebih dekat, polisi terlihat lebih manusiawi. Dialog terbuka ini memberi ruang bahwa aparat bukan sekadar penegak hukum, tetapi juga teman berdiskusi dan pendengar yang baik.

Doa bersama menutup kegiatan, meninggalkan kesan damai. Jamaah menyalami Kapolres satu per satu, senyum tersungging, tangan saling menggenggam erat. Foto bersama jadi simbol bahwa hari itu, polisi dan masyarakat telah berbagi cerita yang sama: tentang keinginan menjaga kampung halaman agar tetap kondusif.
Bagi warga, Jumat Curhat ini lebih dari sekadar program kepolisian. Ia menjadi pengingat bahwa rasa aman lahir dari kebersamaan. Dan bagi aparat, momen sederhana ini adalah pengingat bahwa kekuatan polisi ada pada kepercayaan yang dititipkan masyarakat. ich
