Jakarta, Channelsatu.com – Episode baru Tayub “Untung Ada Pengacara” membuka cerita dengan gambaran satir tentang dunia bisnis kreatif yang dianggap mudah menghasilkan uang. Lewat narasi yang mengalir dramatis, tayangan ini menekankan bahwa jika cuan bisa digapai semudah menyentuh rembulan di balik ranting pohon, maka setiap orang pasti sudah bergelimang kekayaan. Namun dunia nyata berkata lain, dan Tayub memotret kontradiksi itu dengan gaya komedik yang cerdas.
Evry Joe dan Gunawan Tarigan menjadi pusat cerita ketika keduanya memutuskan menjual mobil premium demi modal film. Keputusan yang tampak besar itu digambarkan dengan nada satir, karena keduanya percaya diri bahwa modal besar otomatis menghasilkan keuntungan besar. Dalam perspektif industri, langkah itu justru mengundang tanda tanya: apakah mereka benar-benar memahami seluk-beluk produksi film atau hanya ikut tren?
Keduanya kemudian menunjuk Soultan Saladin sebagai sutradara, langkah yang secara teknis tepat tetapi tetap terasa dramatis. Genre horor dipilih karena dianggap paling aman untuk menghasilkan pendapatan. Namun alasan mereka memilih genre itu lebih lucu daripada logis: mengikuti tren viral agar film mereka diterima oleh semua kalangan, termasuk intelektual yang menginginkan sentuhan ilmiah dalam cerita.
Upaya membuat horor ilmiah demi memikat kelas atas menjadi poin satir dalam cerita ini. Konsep “hantu intelektual” dan “teror berbasis teori” menjadi gambaran kocak tentang investor pemula yang menganggap kreativitas bisa dipaksakan. Di balik layar, para kreator terlihat kewalahan mengikuti keinginan investor yang terus berubah, membuat proses produksi seperti wahana roller coaster tanpa rem.
Ketegangan semakin terasa ketika kebutuhan keluarga mendorong tekanan finansial. Evry dan Gunawan mulai bertengkar karena proyek berjalan tanpa arah. Adegan dramatik itu ditampilkan seperti komedi situasional, memperlihatkan betapa ambisi besar bisa berubah menjadi konflik kecil yang tak masuk akal.
Di sinilah pengacara muncul sebagai karakter penyelamat. Episode “Untung Ada Pengacara” menghadirkan Edy Triyono Sumartadi SH., MH., yang berperan sebagai figur yang menengahi kekacauan legal maupun emosional. Kemunculannya memberikan nuansa baru sekaligus memperkuat elemen komedi satir yang menjadi ciri khas Tayub.
Rizal Siregar sebagai sutradara menceritakan bahwa episode ini terinspirasi dari fenomena nyata. Menurutnya, banyak investor pemula terjun ke dunia kreatif tanpa persiapan matang, menganggap proses membuat film sesederhana menekan tombol kamera. Tayub menggunakan pendekatan humor untuk menyampaikan pesan kritis tersebut.
Penampilan para pemain—Soultan Saladin, Yanti Yaseer, Herwidian Halim, dan I Rita Sahara—memberikan sentuhan dramatik dan komedik yang memperkaya cerita. Episode ini menjadi gambaran tentang betapa lucunya dunia kreatif ketika ambisi lebih besar daripada kemampuan, sebuah sindiran yang relevan di era konten digital.
