Jakarta, Channelsatu.com – Di tengah gegap gempita ulang tahun Jakarta ke-498, muncul satu kisah inspiratif dari seorang perempuan yang menghidupkan kembali warisan kuliner Betawi dalam kemasan modern. Melalui brand Oleh-Oleh Jakarta Mpok Mumun, sang pelestari budaya ini membuktikan bahwa cita rasa otentik bisa dikemas sebagai identitas kota, menjadi bagian dari pergerakan budaya, transportasi rasa, dan denyut ekonomi lokal yang terus bergerak seiring waktu.
Di usia 60 tahun, Mpok Mumun bukan hanya membuka babak baru dalam hidupnya, tapi juga dalam sejarah kuliner Betawi. Mengangkat kekayaan rasa lewat Dodol Betawi, Bir Pletok, Kue Gambang, hingga Akar Kelapa dan Biji Ketapang, ia menjawab pertanyaan klasik: “Jakarta itu oleh-olehnya apa?” Dengan sentuhan riset, kemasan visual khas kota, dan platform digital seperti Shopee, ia tak hanya menjual camilan, tetapi merawat cerita.
Tak banyak yang tahu, usaha ini lahir dari keterbatasan. Setelah dua kali gagal membangun bisnis, Mpok Mumun bangkit tanpa modal dari bank. Ia memilih memulai dari tabungan pribadi, mengandalkan semangat dan pengetahuan otodidak dari YouTube. Lewat Shopee, produk-produk khasnya kini menjangkau konsumen lintas kota, bahkan telah membuka peluang reseller dan memperluas tim kerja hingga delapan karyawan.
Kunci keberhasilan Oleh-Oleh Jakarta Mpok Mumun adalah perpaduan antara warisan budaya dan strategi modernisasi. Dari desain kemasan bergambar ikon Jakarta seperti Monas dan GBK hingga pelatihan ekspor bersama Shopee Seller Ekspor, semua dirancang untuk menunjukkan bahwa budaya bisa berpindah tangan secara elegan, bahkan melintasi batas kota melalui kanal e-commerce.
Menjelang ulang tahun Jakarta, Mpok Mumun meluncurkan varian baru: Kue Gambang edisi khusus HUT Jakarta dengan tagline “Rasa Jakarta, Cerita Kita.” Produk ini bukan sekadar kudapan, tetapi simbol eksistensi budaya kuliner Betawi yang tetap hidup bersama masyarakat urban yang kian kompleks. Di tengah dominasi makanan cepat saji, kue yang nyaris punah ini kembali mendapat panggung.
Bagi Mpok Mumun, Jakarta bukan sekadar ibu kota, tetapi rumah tempat mimpi-mimpi UMKM bisa tumbuh. Ia berharap kota ini makin berpihak kepada pelaku usaha kecil, serta mengajak generasi muda agar tak hanya menjadi penikmat budaya, tapi juga penjaga dan penggeraknya. “Kenalilah, cintailah, dan lestarikan warisan kuliner lokal kita,” pesannya.
Dengan semangat ini, Oleh-Oleh Jakarta Mpok Mumun tak hanya menjual makanan, tapi menghadirkan narasi kolektif tentang identitas, sejarah, dan cinta terhadap kota. Sebuah hadiah sederhana namun bermakna dalam perjalanan panjang Jakarta menuju usia lima abad. ich
