Karanganyar, Channelsatu.com – Langkah baru dalam pengembangan olahraga disabilitas nasional mulai terlihat melalui inisiasi program Jaga Inklusi (JAGAIN) yang diperkenalkan dalam rapat kerja nasional NPC Indonesia di Solo. Program berbasis digital ini dinilai menjadi solusi konkret untuk memperkuat sistem pembinaan atlet dari daerah hingga pusat.
Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung RI sekaligus Chef de Mission Asian Para Games 2026, Reda Manthovani, menegaskan bahwa fondasi utama dari pembinaan yang efektif adalah ketersediaan data yang terintegrasi dan dapat diakses oleh seluruh pemangku kepentingan.
“Kami berharap pengurus NPC Indonesia dari mulai pusat, provinsi dan daerah memiliki basis data terlebih dahulu, karena dengan adanya basis data, NPC punya legal standing yang kuat dalam melakukan pembinaan yang seragam,” ujar Reda dalam paparannya.

Menurutnya, digitalisasi melalui JAGAIN akan memungkinkan pengawasan yang lebih terstruktur terhadap perkembangan atlet disabilitas di seluruh Indonesia. Sistem ini juga membuka ruang koordinasi yang lebih cepat antara pengurus daerah, pemerintah, hingga institusi Kejaksaan.
Program ini sekaligus menjadi implementasi dari mandat Undang-Undang Kejaksaan yang menekankan peran intelijen dalam memastikan pemerintah daerah memberikan perlakuan yang adil, setara, dan inklusif bagi penyandang disabilitas.
“Dengan adanya basis data ini para jaksa di kejaksaan negeri bisa memantau, misalnya jika masih ada diskriminasi atau kurang setara. Nantinya bisa dilakukan intervensi untuk mendorong perhatian pemerintah daerah,” jelas Reda.

Tak hanya sebagai alat monitoring, JAGAIN juga berfungsi sebagai kanal aspirasi bagi pelaku olahraga disabilitas di daerah. Permasalahan, kebutuhan fasilitas, hingga program kerja dapat disampaikan secara langsung dan terintegrasi.
Reda meyakini bahwa pendekatan berbasis data ini akan mempercepat peningkatan prestasi atlet, mengingat Indonesia telah menunjukkan capaian luar biasa di level regional.
“Harapannya dengan adanya perhatian dari pemerintah daerah masing-masing, menjadikan motivasi bagi atlet-atlet di daerah. Karena yang dibutuhkan adalah perhatian lebih, maka JAGAIN ini diharapkan bisa benar-benar ‘menjaga’ disabilitas,” tuturnya.

Dengan pendekatan digital dan kolaboratif, program ini diyakini menjadi titik balik dalam membangun sistem pembinaan olahraga disabilitas yang lebih modern, transparan, dan berkelanjutan. ich
