Jakarta, Channelsatu.com – Di balik absurditasnya, *Pesugihan Sate Gagak* menyimpan pesan sosial yang kuat. Produser **Aoura Lovenson Chandra** dari **Cahaya Pictures** menegaskan bahwa film ini berangkat dari kegelisahan nyata masyarakat yang lelah menghadapi tekanan ekonomi.
“Film ini tentang orang-orang biasa yang mencari jalan keluar dari hidup susah. Tapi kami membungkusnya dengan tawa agar tetap ringan,” ungkap Aoura. Baginya, tawa justru bisa menjadi cara penyembuhan di tengah tekanan hidup.
Cahaya Pictures memang dikenal konsisten menghadirkan film yang sederhana tapi dekat dengan penonton, seperti *1 Imam 2 Makmum*. Kali ini, mereka kembali mengangkat realitas sosial dengan gaya komedi gelap yang menggugah.
Penonton akan menemukan potret kehidupan kelas menengah bawah yang penuh utang, impian, dan keinginan cepat kaya. Namun di balik semua kelucuan itu, tersimpan kritik terhadap budaya pesugihan yang masih dipercaya sebagian orang.
Melalui karakter Trio Gagak, film ini menyoroti bagaimana masyarakat sering mencari solusi instan tanpa memahami konsekuensinya. Tawa yang dihadirkan pun tak lepas dari ironi kehidupan modern yang makin absurd.
Aoura Lovenson menambahkan bahwa *Pesugihan Sate Gagak* juga menjadi bentuk lanjutan dari semangat Cahaya Pictures untuk menghadirkan film yang relevan dengan realita sosial. “Kami ingin penonton tertawa, tapi juga berpikir,” ujarnya.
Pendekatan film ini membuatnya terasa lebih hidup dan otentik. Kombinasi antara naskah kuat karya **Nuugro Agung** dan penyutradaraan ganda **Etienne Caesar – Dono Pradana** menjadikan film ini padat makna, namun tetap ringan di tonton.
Dengan pesan sosial dan komedi yang segar, *Pesugihan Sate Gagak* berpotensi menjadi salah satu film lokal paling berkesan di penghujung 2025.
