Kabupaten Ponorogo. Channelsatu.com – Rangkaian Grebeg Suro 2026 akan resmi dibuka pada 6 Juni 2026 di Alun-Alun Ponorogo. Pembukaan tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya Festival Reog Remaja XXII dan Festival Nasional Reog XXXI yang selama ini menjadi ikon utama perayaan budaya masyarakat Ponorogo. Festival Reog Remaja akan berlangsung pada 7–10 Juni, sedangkan Festival Nasional Reog digelar pada 11–14 Juni 2026.
Berbagai kegiatan pendukung juga telah disiapkan untuk memeriahkan perayaan tersebut. Mulai dari Grebeg Bonsai Bumi Reog, lomba burung perkutut, pameran bonsai, pameran lukisan, pergelaran pusaka, Karnaval Keroncong Ponorogo 24 Jam Season II, kirab pusaka, pawai lintasan sejarah, jamasan pusaka, wayang kulit malam 1 Suro hingga Adventure Trail yang akan menutup rangkaian kegiatan pada awal Juli mendatang.
Kesiapan seluruh agenda dipastikan dalam rapat pengecekan akhir yang berlangsung di Ruang Rapat Bantarangin Ponorogo, Jumat (30/5/2026). Dalam rapat tersebut, panitia meninjau seluruh aspek teknis pelaksanaan, termasuk kesiapan panggung utama dan fasilitas pendukung yang akan digunakan selama festival berlangsung.
Sekretaris Daerah Ponorogo Agus Sugiarto menegaskan bahwa seluruh pihak berkomitmen menjaga semangat dan kualitas penyelenggaraan agar Grebeg Suro tahun ini berlangsung lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Kita terus menjaga spirit agar pelaksanaan seluruh event berjalan lancar. Gegap gempita Grebeg Suro 2026 harus lebih menggelora daripada tahun-tahun sebelumnya,” kata Agus Sugiarto.
Menurut Agus, perhatian khusus diberikan kepada Festival Nasional Reog Ponorogo dan Festival Reog Remaja karena kedua agenda tersebut telah menjadi daya tarik utama wisata budaya Ponorogo. Ia mengingatkan bahwa FNRP telah masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara sehingga kualitas penyelenggaraan harus memenuhi standar event nasional yang telah ditetapkan pemerintah pusat. “FNRP masuk Karisma Event Nusantara (KEN) sehingga sejumlah aspek teknis perlu benar-benar mendapat perhatian,” ujarnya.
Agus juga menyoroti capaian besar Ponorogo yang kini tergabung dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada bidang crafts and folk art serta pengakuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Menurutnya, status tersebut membawa tanggung jawab besar untuk menjadikan budaya sebagai motor penggerak ekonomi kreatif daerah. “Ada tanggung jawab moral bagaimana mengembangkan ekonomi kreatif yang bertumpu pada kekuatan budaya lokal. Termasuk menjadikan kesenian Reog Ponorogo sebagai lokomotif penggerak ekonomi kreatif,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, memastikan seluruh persiapan telah rampung. Ia menegaskan pelaku UMKM akan mendapatkan ruang promosi yang luas selama pelaksanaan Grebeg Suro, termasuk dukungan videotron untuk memperkenalkan produk lokal kepada pengunjung.
“Checking terakhir sudah selesai dan semuanya siap. Grebeg Suro 2026 siap menghibur masyarakat Ponorogo dan sekitarnya. Semoga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk peningkatan perekonomian,” ujar Judha.
Dukungan juga datang dari Wakil Ketua DPRD Ponorogo Evi Dwitasari yang menilai Grebeg Suro bukan sekadar agenda hiburan, melainkan identitas budaya daerah yang harus tetap menjaga nilai tradisi dan kesakralannya.
“Rangkaian Grebeg Suro harus tetap menjaga nilai adat dan tradisi. Jangan sampai semangat kemeriahan menghilangkan nilai kesakralan,” tegasnya. Ia menambahkan, Grebeg Suro harus menjadi ruang pelestarian budaya, hiburan masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi lokal yang mampu memberikan manfaat nyata bagi warga Ponorogo. ich
