Jakarta, Channelsatu.com – Perkembangan teknologi kini membuka peluang baru bagi para musisi dan pencipta lagu untuk menghasilkan karya yang lebih luas dan inovatif. Hal tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya proyek musik pop “Bimo and The Jin” yang digagas oleh Bimo Sulaksono.
Melalui proyek tersebut, Bimo mencoba menghadirkan konsep kolaborasi antara kreativitas manusia dan teknologi kecerdasan buatan. Ia tetap menjadi pencipta lagu sekaligus pemilik konsep utama, sementara teknologi digunakan untuk membantu mengembangkan aransemen musik sesuai ide yang telah dirancang.
Menurut Bimo, banyak pencipta lagu memiliki ide, melodi, dan pesan kuat, namun tidak selalu memiliki akses terhadap sumber daya produksi musik yang lengkap. Kehadiran teknologi dapat menjadi jembatan untuk mengubah gagasan tersebut menjadi karya yang siap dinikmati publik.
Konsep tersebut diwujudkan melalui perilisan lagu *Harus Bagaimana*, sebuah karya yang mengusung warna pop emosional dengan lirik yang dekat dengan pengalaman banyak orang. Lagu tersebut menjadi representasi bagaimana teknologi dapat membantu proses kreatif tanpa menghilangkan identitas penciptanya.
Bimo menjelaskan bahwa seluruh cerita, tema, dan pesan lagu berasal dari pengalaman serta sudut pandang manusia. Teknologi hanya membantu menerjemahkan konsep tersebut menjadi bentuk musikal yang lebih utuh.
“Lagu-lagu dalam Bimo and The Jin digarap dengan dukungan AI untuk membantu mewujudkan aransemen sesuai konsep dari pencipta lagunya. Ide, pesan, dan kreativitasnya tetap berasal dari manusia,” kata Bimo Sulaksono.
Ia berharap pendekatan ini dapat menjadi inspirasi bagi para song writer di Indonesia untuk terus berkarya tanpa harus terhambat keterbatasan teknis dalam proses produksi.
“Ini bisa menjadi solusi baru bagi para pencipta lagu untuk menghadirkan karya yang dapat dinikmati sepanjang masa, khususnya dalam genre musik pop,” ujarnya. ich
