Jakarta, Channelsatu.com – Di tengah anggapan bahwa masyarakat semakin jauh dari budaya membaca akibat perkembangan media digital, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia Arys Hilman Nugraha justru melihat tanda berbeda dari generasi muda Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam Seminar Nasional “46 Tahun Perpusnas: Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” yang digelar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Menurut Arys, antusiasme Generasi Z terhadap buku mulai terlihat dalam berbagai pameran perbukuan yang digelar dalam beberapa tahun terakhir. Ia mencontohkan ramainya pengunjung muda saat Indonesia International Book Fair berlangsung di Jakarta Convention Center.
“Pameran buku Indonesia International Book Fair di Jakarta Convention Center yang diselenggarakan tahun lalu, selalu dipadati pengunjung khususnya Generasi Z. Mereka terlihat sangat terhubung dengan dunia baca secara global. Mereka mengetahui buku-buku yang akan terbit dan menantikan kehadirannya,” ujarnya.
Ia bahkan mengungkapkan ada buku internasional yang langsung habis terjual di pameran meski belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Fenomena itu dinilai menunjukkan bahwa sebagian anak muda Indonesia mulai aktif mengikuti perkembangan literasi global.
Meski demikian, Arys mengingatkan bahwa meningkatnya minat terhadap buku belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan budaya baca di Indonesia.
Menurutnya, masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan aliterasi, yaitu kondisi ketika seseorang mampu membaca tetapi belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan.
Karena itu, ia menilai dukungan terhadap dunia literasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari memperluas akses buku, memperbanyak perpustakaan dan toko buku, hingga menjaga harga buku tetap terjangkau.
Seminar nasional tersebut digelar dalam rangka ulang tahun ke-46 Perpusnas dan menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai bidang. Selain membahas budaya baca, diskusi juga menyinggung perubahan peran perpustakaan dan pustakawan di era digital.
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia E. Aminudin Aziz mengatakan perpustakaan saat ini tidak cukup hanya menjadi tempat penyimpanan buku dan arsip. Menurutnya, perpustakaan harus mampu menjaga pengetahuan tetap hidup dan relevan bagi masyarakat.
“Pengetahuan yang tidak bergerak adalah pengetahuan yang sedang menunggu untuk dilupakan. Dari sanalah martabat bangsa dibangun yang muncul dari masyarakat yang literat, tidak mudah termakan informasi liar, mampu berpikir kritis di tengah beragam informasi yang terkadang membingungkan,” katanya.
Dalam forum tersebut, Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka juga menegaskan pentingnya keberadaan perpustakaan di tengah perkembangan teknologi digital. Ia mengatakan buku-buku lama tetap memiliki nilai penting yang tidak dapat ditinggalkan.
“Perpustakaan terus diulang-ulang dalam buku. Walaupun sekarang ada perpustakaan digital, tetap tidak bisa meninggalkan buku-buku lama,” ujarnya.
Rieke juga mendorong penguatan perpustakaan desa dan ruang baca masyarakat agar akses terhadap pengetahuan dapat menjangkau lebih banyak wilayah.
Sementara itu, Director Indonesia Doctoral Training Partnership dari University of Nottingham Bagus P. Muljadi menilai Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan pengetahuan lokal yang besar melalui berbagai pustaka dan naskah kuno Nusantara.
Menurutnya, banyak pengetahuan tradisional Indonesia yang memiliki hubungan dengan ilmu modern dan dapat dikembangkan lebih jauh dalam konteks global.
“Orang Jawa sudah tahu bahwa raja sesungguhnya adalah alam itu sendiri,” ujarnya saat menjelaskan hubungan pengetahuan masyarakat Jawa dengan pemahaman tentang alam dan mitigasi bencana.
Melalui seminar tersebut, Perpusnas ingin menegaskan bahwa perpustakaan tidak hanya berbicara mengenai buku, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan dapat terus diwariskan dan dimanfaatkan di tengah perubahan zaman. (Kul)
