Jakarta, Channelsatu.com – Menutup tahun 2025, layar lebar Indonesia kembali diramaikan film horor berlatar alam lewat *Dusun Mayit*, sebuah kisah tentang pendakian yang berubah menjadi mimpi buruk. Terinspirasi dari cerita menyeramkan di kawasan Gunung Welirang, film ini menghadirkan horor yang tumbuh dari keheningan pegunungan dan kesalahan manusia yang melanggar batas.
Cerita berpusat pada sekelompok pendaki yang tersesat dan memasuki wilayah terlarang yang tidak tercatat di peta. Dusun misterius yang mereka temui menjadi ruang asing yang memisahkan mereka dari dunia nyata, menghadirkan teror yang perlahan namun terus menghimpit.
Alih-alih mengandalkan teror instan, *Dusun Mayit* membangun ketegangan melalui situasi bertahan hidup. Kelelahan fisik, rasa bersalah, dan ketakutan psikologis menjadi elemen penting yang mengiringi perjalanan karakter-karakternya.
Amanda Manopo, yang memerankan salah satu tokoh utama, mengaku tertantang dengan pendekatan realistis film ini. “Banyak adegan yang benar-benar menguras fisik dan emosi. Kami harus terlihat lelah, takut, dan tertekan secara natural, karena syutingnya memang dilakukan di alam terbuka,” kata Amanda.
Latihan fisik menjadi bagian tak terpisahkan dari proses produksi. Para pemain dilatih untuk menghadapi medan berat, cuaca dingin, dan adegan panjang tanpa banyak bantuan teknis, demi menjaga keaslian suasana pendakian.
Dari sisi artistik, *Dusun Mayit* memanfaatkan kabut, cahaya alami, serta desain suara untuk menciptakan atmosfer mencekam. Sosok-sosok gaib tidak langsung dihadirkan secara eksplisit, melainkan muncul sebagai ancaman laten yang terus membayangi.
Film ini juga menempatkan mitologi lokal sebagai kekuatan utama cerita. Dusun dan danau gaib digambarkan sebagai simbol alam yang memiliki hukum sendiri, menegaskan pesan tentang konsekuensi ketika manusia melampaui batas yang tidak kasat mata.
Dengan tayang perdana pada 31 Desember 2025, *Dusun Mayit* diposisikan sebagai penutup tahun yang gelap dan reflektif, menghadirkan horor yang bukan hanya menakutkan, tetapi juga mengajak penonton merenungi hubungan manusia dengan alam. ich
