Jakarta, Channelsatu.com – Alunan suara takbir, mengiringi prosesi pemotongan hewan kurban di Masjid At-Taubah, Kemandoran Pluis, Grogol Utara, Sabtu (7/6/2025), disaksikan ratusan warga setempat yang antusias menyaksikan ritual kurban yang digelar usai pelaksanakan solat Iduladha. Sebanyak 3 ekor sapi dan 15 ekor kambing disembelih yang menjadi simbol keikhlasan dan solidaritas mengikuti syariat yang telah dilakukan Nabi Ibrahim saat mendapat ujian dari Alloh SWT untuk mengorbankan Ismail, anaknya yang disayanginya itu, yang karena ketabahannya akhirnya diganti oleh Alloh dengan seekor domba.
Tradisi kurban yang berlangsung lebih dari 1.400 tahun tetap menemukan maknanya di tengah hiruk pikuk metropolitan. Di balik daging yang dibagikan, ada semangat gotong royong yang menghidupkan lingkungan. “Puji syukur alhamdulillah, kegiatan bisa berjalan dengan lancar dan warga sangat antusias sekali melihat semangat mereka untuk berbagi dan bergotong-royong hingga acara selesai,” ujar Maryono, salah seorang panitia kurban Masjid At-Taubah.
Sebelumnya, para pengurus masjid dan relawan sudah bersiap mengatur lokasi pemotongan, menyusun daftar penerima daging, hingga memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan agama. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi ajang silaturahmi dan refleksi sosial tentang arti memberi dan berkorban di tengah tantangan hidup perkotaan.
Namun, ada sisi lain dari perayaan kurban yang jarang mendapat sorotan yakni pemanfaatan kulit hewan kurban. Momentum Idul Adha juga membuka peluang ekonomi musiman bagi pengepul kulit seperti Udin (48), warga Kemandoran Pluis yang sudah puluhan tahun menggeluti usaha ini. “Setiap tahun, saya bisa terima ratusan kilogram kulit dari berbagai masjid dan panitia kurban,” ungkapnya.
Kulit-kulit tersebut tidak dibuang percuma. Udin menjualnya ke pengepul besar seharga Rp 4.000 per kilogram. Dari sana, kulit-kulit itu dibawa ke kawasan Gondrong, Tangerang, untuk diproses menjadi kerupuk kulit berupa camilan gurih yang banyak diminati masyarakat Indonesia.
Bagi sebagian orang, kulit hanyalah sisa pemotongan. Tapi bagi Udin, ini adalah sumber rezeki yang datang setahun sekali. Aktivitas seperti ini menjadi bukti bahwa tradisi kurban bukan hanya ritual ibadah, tapi juga menggerakkan roda ekonomi warga kecil. Sebuah berkah berantai yang menjangkau lebih luas dari yang tampak.
Idul Adha tidak hanya tentang penyembelihan, melainkan juga tentang bagaimana kita memaknai pengorbanan. Di tengah kerasnya kehidupan kota, tradisi ini mengingatkan bahwa masih ada ruang untuk kebersamaan, untuk saling membantu, bahkan dalam bentuk yang mungkin dianggap “sisa” oleh sebagian orang—seperti kulit hewan kurban.
Dari masjid hingga pasar kulit, dari tangan relawan hingga tangan pengepul, semangat kurban menjalar seperti gema takbir yang menyatukan: menyebar berkah, memberi manfaat, dan mempererat simpul sosial yang mungkin mulai longgar di tengah derasnya arus individualisme kota. ich
