Jakarta, Channelsatu.com – Platform kemitraan commerce global impact.com bersama penyedia intelijen pasar Cube, merilis laporan tahunan edisi ketiga bertajuk E-commerce Influencer Marketing in Southeast Asia 2025. Berdasarkan riset terhadap lebih dari 2.400 responden dari enam negara di Asia Tenggara, laporan ini menyoroti tren pemasaran afiliasi yang berkembang pesat dan pengaruhnya terhadap strategi brand serta perilaku pembelian konsumen.
Dengan penetrasi media sosial yang kian tinggi, Facebook dan YouTube masih menjadi kanal utama, namun TikTok Shop mulai memainkan peran strategis dalam mendorong keterlibatan dan transaksi melalui konten shoppable. Laporan ini mengungkap bahwa 31% konsumen membeli produk melalui tautan yang dibagikan kreator, melampaui promosi langsung dari brand atau influencer tanpa link pembelian.
Salah satu temuan paling mencolok adalah penurunan pengaruh mega influencer terhadap keputusan pembelian. Hanya 59% responden mengaku masih dipengaruhi oleh kreator dengan lebih dari satu juta pengikut—angka ini turun 7% dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, micro dan nano influencer mempertahankan persepsi orisinalitas yang lebih kuat dan efektif dalam membangun kepercayaan.
Fenomena baru juga muncul dalam bentuk Key Opinion Sellers (KOS), yaitu kreator yang tidak hanya membagikan opini tapi juga mendorong langsung penjualan. Tren ini mencuat di platform seperti TikTok Shop, di mana 9 dari 10 kreator teratas di Thailand masuk kategori KOS, membuktikan pergeseran signifikan dalam lanskap pemasaran digital.
Laporan ini menyoroti bahwa lebih dari 83% konsumen di Asia Tenggara pernah melakukan pembelian melalui tautan afiliasi, dengan kategori kecantikan (62%) dan fesyen (54%) menjadi yang paling dominan. Marketplace seperti Shopee, Lazada, dan TikTok Shop menjadi saluran utama bagi para kreator afiliasi, dengan sistem komisi yang menarik mulai dari 4% hingga 13%.
Adam Furness, Managing Director APAC impact.com, menegaskan bahwa brand perlu beradaptasi dari pendekatan influencer tradisional ke kemitraan berbasis kinerja yang otentik dan berkelanjutan. “Investasi dalam model afiliasi menjadi fondasi penting untuk pertumbuhan jangka panjang di kawasan ini,” ujar Furness.
Laporan ini juga dilengkapi wawancara dengan kreator, agensi, dan enabler yang membahas bagaimana membangun koneksi emosional dan nilai nyata dalam setiap kampanye influencer. Kesimpulannya, pemasaran afiliasi bukan sekadar tren, tapi transformasi struktural dalam dunia e-commerce Asia Tenggara yang siap mendefinisikan masa depan brand dan kreator. ich
