Jakarta, Channelsatu.com – Tentang Tahun Baru 2025 menjadi cacatan tersendiri bagi budayawan Sujiwo Tejo. Menurutnya, perjalanan Tahun 2025 bisa diibaratkan dengan Kisah Mahabrata dan katak dalam tempurung.
Penjelasan kisah ini ditulis Sujiwo Tejo di akun Instagram (IG) @president_jancukers. Dalam postingannya tersebut, Sujiwo Tejo menampilkan foto dirinya bersama penyanyi senior Ahmad Albar.
“Tragedi dari Yunani aku kurang begitu paham selain kisah Oidipus yang secara tragis harus menikahi ibunya sendiri, tapi “Kisah Mahabrata” lumayan paham,” ucap Sujiwo Tejo dikutip dari akun IGnya, Sabtu (4/1/2025).
Soal Kisah Mahabrata, budayawan kelahiran 31 Agustus 1962 ini menjelaskan, ada Pandawa yang pro susunan kasta-kasta dalam masyarakat dan ada Kurawa yang pro masyarakat egaliter tanpa susunan kasta-kasta berdasarkan keturunan, adanya cuma kelas-kelas berdasarkan prestasi.
“Perang Bharatayudha dalam epos Mahabrata itu sesungguhnya dipicu oleh perbedaan mazhab soal tatanan masyarakat, tapi hampir tidak ada dalang-dalang di Nusantara yang mementaskannya. Hampir seluruh dalang cuma menyinggung bahwa Bharatayudha terpicu gegara rebutan Tanah Air, rebutan pengaruh baik-buruk dan lain-lain. Dan Baik itu Pandawa dan Buruk itu Kurawa,” katanya.

Dalang-dalang
Penulis puisi berjudul Stasiun Tuaku ini menjelaskan, entah karena apa dalang-dalang di sini kurang tercerahkan untuk mengungkap alasan lainnya lagi, bagi terjadinya Perang Saudara di Tegal Kurusetra itu.
Baca juga: Tahun Baru 2025, Gus Yahya Sebut Momentum Bangsa untuk Muhasabah
“Tak pernah diungkap bahwa Pandawa dengan sponsor Kresna, Rama Parasu dan lain-lain yang pro kasta-kasta sedang berebut pengaruh sistem sosial dengan Kurawa yang anti kasta-kasta, yang disponsori oleh Baladewa, Adipati Karna, Bisma dan lain-lain (Durna walau fisiknya di Kurawa batinnya di Pandawa. Mahaguru Pandawa-Kurawa itu murid Parasurama dan pro kasta),” jelas Sujiwo Tejo.
“Mungkin dalang-dalang itu takut disebut dalang edan. Padahal, dalam memperjuangkan sesuatu, apalagi buku-buku tentang kasta dalam Mahabrata ini juga seabreg, dianggap edan atau gila kan enggak masalah?” ungkapnya.
Kecuali sambung Sujiwo Tejo, kalau dalang-dalang itu memang satu-satunya sumber hidupnya dari mendalang. Mendalang bahwa Bharatayudha digerakkan oleh persoalan kasta, pasti enggak laku. Sebab masyarakat enggak akan ada yang nanggap …”Wayang opooo iki!!!” Pasti begitu gerutu masyarakat.
“Aku relatif beruntung. Jika tak ada yang nanggap wayanganku gegara beda tema/mazhab dari wayangan umum, ya aku nyari nafkah dari film, musik, nulis buku, talk show, dan lain-lain. Yang nanggap wayanganku, hanya orang yang tercerahkan. Dan di mana-mana, jumlah orang tercerahkan pasti lebih sedikit dibanding jumlah katak dalam tempurung,” tutupnya. (Fjr)
