Cirebon, channelsatu.com:Walau belum pernah mengunjungi, tidak ada warga Indonesia yang tidak mengenal kota Cirebon. Begitu menyebut Wali Songo alias Wali Sembilan, langsung saja ingatan segera melekat pada Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo.
Sunan Gunung Jati atau dikenal pula dengan nama Syarif Hidayatullah adalah raja Cirebon yang paling dihormati. Termasuk salah satu penyebar agama Islam pertama di Jawa (Wali Songo) yang meninggal pada tahun 1570.
Sampai saat ini di wilayah Cirebon terdapat empat tempat yang dianggap keramat, yaitu Makam Sunan Gunung Jati yang terletak di Gunung Sembung, sekitar 5 kilometer di barat laut Cirebon, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan Masjid Agung Cipta Raya.
Dari empat tempat keramat itu, makam Sunan Gunung Jati, termasuk makam yang dihormati serta paling banyak dikunjungi di pulau Jawa bahkan mungkin di Indonesia.
Tentang Cirebon ialah kota yang terletak di dekat perbatasan dengan Jawa Tengah dan merupakan kota pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta, Surabaya maupun Semarang.
Kota inipun penghasil ikan dengan hidangan lautnya yang lezat. Namun justru tidak banyak yang tahu, bahkan sampai saat ini tetap digemari masyarakat, yakni Docang yang menurut sejarah kuliner Cirebon adalah makanan yang disukai para wali. Makanan ini perpaduan dari lontong, toge dan kerupuk, yang berkolaborasi sayur dage, tempe gembos atau tempe yang dihancurkan, serta dikombinasikan dengan larutan kelapa muda.
Menyantap Docang sungguh nikmat dan sesuai untuk menu sarapan. Bahan makanan Docang sangat lengkap dengan bumbu yang terasa menyengat lidah, terutama tempe gembos, apalagi bagian atas makanan tersebut disirap sayur lodeh. Benar-benar kelezatannya penuh sensasi.
Tidak dipungkiri kuliner Cirebon bercita rasa pedas dan asin. Serta rasanya bersensasi. Nasi Jamblang atau Sego Jamblang, sego yang artinya, yaitu nasi yang terbungkus dari daun jati. Kenapa musti daun jati? Selain tahan lama dan supaya nasinya tetap terasa pulen. Masyarakat menyakini, pori-pori pada daun jati membuat nasi terjaga kualitasnya, meski disimpan lebih dari sehari.
Sedangkan istilah Jamblang tidak lain nama di daerah sebelah barat kota Cirebon,tempat asal pedagang makanan nasi ini. Sejarah mencatat awalnya makanan ini untuk pekerja paksa zaman Belanda, ketika pekerja membangun Jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan, melewati Cirebon.
Sego Jamblang mudah ditemukan di kedai, restoran sampai hotel mewah. Nasi yang terbungkus dengan daun jati ini bakal nikmat jika disantap dengan berbagai macam lauk pauk seperti ikan sontong, sambal hijau, pepes teri, kerang pedas, tahu tempe, ikan jambal asin, terong balado, daging bistik, dan sambal goreng begedel.
Boleh dikata, bahwa kota Cirebon boleh juga disebut surga makanan. Mulai dari makanan berat hingga makanan ringan. Makanan berat maupun makanan ringan mudah dicari dan ditemukan di mana-mana. Banyak kedai, terutama pada malam hari, menyajikan makanan Sego Jamblang.
Sego Jamblang termasuk makanan berat. Selain itu ada Nasi Lengko dan Empal Gentong, terus makanan yang lebih ringan ialah Tahu Genjrot terbuat dari tahu matang yang digoreng, lalu dipotong-potong kecil. Berikutnya ditambah bawang merah dan cabai rawit yang dihabiskan agak kasar. Bumbu ini dicampur dengan tahu lalu disiram kuah yang terbuat dari rebusan gula merah serta cuka.
Saat disajikan, tahu genjrot diletakkan di atas layah, cobek, piring kecil dari gerabah. Rasa manis, asin dan asam membuat yang menyantap Tahu Genjrot merasakan sensasi kelezatan. Sebagaimana sensasi tatkala menikmati makanan Empal Gentong yang berkuah serta serupa gulai.
Dinamakan empal gentong lantaran dimasak di atas kayu bakar dengan menggunakan gentong yang terbuat dari gerabah. Proses memasak Empal Gentong kayu bakar dari pohon mangga yang dimasak dalam gentong atau kuali dari tanah liat. Sajian empal gentong ini terdiri dari potongan daging termasuk di dalamnya ada usus, babat dan daging sapi.
Kuah empal gentong kental dan bersantan. Dimasak dengan cara tradisional yang cara memasaknya memang khas, menggunakan gentong. Isi makanan Empal Gentong ini memang potongan daging yang ditaburi irisan daun kucai. Sedang potongan daging sapi itu memang berendam dalam kuah santan yang penampilannya menarik jika dicampur bumbu kuning. Untuk menikmati Empal Gentong sebaiknya disertai potongan lontong.
Dari Empal Gentong muncul varial Empal Asem dan Empal Kikil. Seperti halnya Empal Gentong, Empal Asem ini lebih bening kuahnya. Sedang Empal Kikil, yang membedakan hanya dagingnya yang terdiri dari daging kikil. Empal Asem aromanya menyengat. Untuk menciptakan aroma rasa asam, ada irisan belimbing sayur atau belimbing waluh plus taboran irisan tomat. Memang jika disantap, empal asem terasa lebih segar di mulut.
Masih ada menu makanan yang penuh sensasi kelezatannya, selain yang disebut di atas, yaitu Nasi Lengko. Tidak cuma masyarakat Cirebon yang senang, juga masyarakat Indramayu, Brebes, Tegal (Jawa Tengah) dan sekitarnya. Bahan Nasi Lengko terdiri : Nasi putih, panas-panas lebih baik, tempe goreng, tahu goreng, mentimun yang mentah segar dicacah, tauge direbus, daun kucai dipotong kecil-kecil, bawang goreng, bumbu kacang seperti bumbu pecel.
Bahan makanan itu memang menjadi satu di piring, dan bila akan disantap, maka jangan lupa disiram kecap manis. Jangan lupa pula ada kerupuk. Betapa nikmatnya menyantap Nasi Lengko, Sego Jamblang, Empal Gentong, Docang, Tahu Genjrot dan Empal Asem yang termasuk makanan berat khas Cirebon.
Sedang makanan ringan khas Cirebon, yakni makanan ringan maupun kue kering hasil olahan rumah tangga dan industri kecil seperti lumpia, emping, gapit,kripik pisang, kripik singkong, telur gabus, kacang-kacang, kerupuk si miskin, dan kerupuk melarat.
Sejauh ini makanan ringan khas cirebon ini laku keras di pasaran yang membuat perputaran rupiah luar biasa. Kiranya, jelajahilah kuliner Cirebon dengan sukacita. Anda bisa bertandang dari Jakarta, naik kereta api yang jarak tempuhnya sekitar tiga jam. (Syamsudin Noer Moenadi redaktur channnelsatu.com dan pemerhati kuliner). Foto: Ilustrasi.
