Jakarta, Channelsatu.com – Dunia seni lukis abstrak terus berkembang dengan latar belakang unik dari para senimannya. Salah satunya adalah Dedih Nur Fajar yang mengawali perjalanan kreatifnya dari dunia film dan fotografi.
Pengalaman visual dalam dua bidang tersebut membentuk cara Dedih memahami bentuk dan objek, yang kemudian ia terjemahkan ke dalam karya abstrak. Ia menyebut pendekatannya sebagai “imaji yang samar”.
“Saya menyebutnya imaji yang samar. Ini jadi keseimbangan bagi saya. Guratan lukisan tak mau dibentuk,” ujar Dedih.
Dalam karyanya, Dedih mengolah emosi melalui medium akrilik yang dikombinasikan dengan bahan lain, menghasilkan tekstur tebal dengan dominasi warna hitam serta sapuan ekspresif. Empat karya berukuran 50 x 50 cm yang dibuat pada 2025 itu berjudul Katarsis Visual Takut, Katarsis Visual Marah, Katarsis Visual Sedih, dan Katarsis Visual Kecewa.
Menariknya, proses kreatif Dedih justru berlawanan dengan emosi yang ditampilkan dalam karya.
“Katarsis Visual Sedih misalnya, saya buat justru dalam keadaan bahagia,” tambahnya.
Menurutnya, seni abstrak yang bersifat psikologis merupakan bentuk respons terhadap kondisi kehidupan modern yang kompleks.
“Kalau kita hidup hedon dan nyaman mungkin kita jauh untuk menghadirkan karya abstrak. Perlawanan dapat muncul dalam kehidupan dan fase kita sekarang yang kompleks ini,” jelas Dedih.
Karya Dedih menjadi contoh bagaimana seni abstrak tidak hanya menghadirkan visual, tetapi juga refleksi batin dan dinamika emosional seniman di era modern. ich
