Jakarta, Channelsatu.com – SCG Sharing the Dream kembali menjadi ruang pengembangan generasi muda Indonesia. Memasuki tahun ke-14, program yang diluncurkan sejak 2012 tersebut telah memberikan dukungan kepada lebih dari 5.200 penerima beasiswa di berbagai wilayah Indonesia.
Pada 2026, SCG kembali memberikan 412 beasiswa, yakni kepada 400 siswa SMA/sederajat dan 12 mahasiswa tingkat Sarjana (S1). Pemberian beasiswa dilakukan dalam Awarding Day di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Tidak berhenti pada bantuan pendidikan, SCG Sharing the Dream 2026 mengusung tema “Green Active Generation: Empowered to Act, Driven to Change” dengan fokus pada pengembangan kepemimpinan, kemampuan adaptasi, keterampilan praktis, serta pengalaman menyelesaikan persoalan di lingkungan melalui Community Project.
President Director PT SCG Indonesia Pattaraphon Charttongkum mengatakan investasi terhadap generasi muda harus dilakukan secara menyeluruh.
“Hal ini juga berarti membangun pola pikir, kemampuan, dan kepercayaan diri agar mereka mampu memimpin, berinovasi, dan berkontribusi kepada masyarakat,” ujar Pattaraphon.
Menurutnya, pengalaman SCG selama menjalankan program menunjukkan bahwa dampak berkelanjutan tidak hanya lahir dari investasi pendidikan, tetapi juga dari investasi pada manusia.
Karena itu, SCG Sharing the Dream terus berkembang menjadi platform yang mendorong penerima beasiswa mengembangkan potensi sekaligus menciptakan perubahan positif di komunitas masing-masing.
Program tersebut dilaksanakan bersama Ancora Foundation, mitra resmi SCG sejak 2012. Sejak 2024, program juga menyediakan kuota khusus bagi anak pekerja bangunan dan anak disabilitas.
Pendekatan berbasis pengalaman menjadi salah satu pembeda SCG Sharing the Dream. Para penerima tidak hanya didorong berprestasi secara akademis, tetapi juga diajak memahami persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan di sekitar mereka.
Salah satu contoh datang dari Lulita Sauman, alumni SCG Sharing the Dream 2025 yang menginisiasi WANOJA Green Academy di Ciwidey, Jawa Barat.
Melalui inisiatif tersebut, Lulita bekerja sama dengan komunitas pariwisata lokal untuk mengembangkan keterampilan ekowisata bagi lebih dari 60 anak muda. Program itu sekaligus merespons sejumlah persoalan seperti terbatasnya prospek ekonomi, pernikahan dini, dan akses terhadap pendidikan.
“Community Project menjadi ruang bagi saya untuk mengubah kepedulian menjadi aksi nyata,” kata Lulita.
Ia menilai pengalaman tersebut membantunya memahami bahwa kepemimpinan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan beradaptasi.
Kepala Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, S.E., M.Si. mengatakan generasi muda membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi menghadapi perubahan.
“Kita perlu mendorong anak-anak Indonesia dari sisi kemampuan beradaptasi serta kemampuan berpikir kritis. Anak-anak Indonesia memiliki resiliensi atau daya juang dan kemampuan belajar yang tinggi,” ujar Maria.
Menurutnya, pengembangan konsep Green Active Generation dapat menjadi salah satu upaya mendukung lahirnya talenta unggul Indonesia.
Program ini juga relevan dengan tantangan human capital gaps. Data yang digunakan dalam program menunjukkan 19,44 persen penduduk Indonesia berada dalam kategori NEET atau tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.
Komitmen SCG tidak hanya berlangsung di Indonesia. SCG Sharing the Dream juga menjadi bagian dari program pengembangan generasi muda di ASEAN, dengan penerima beasiswa di Vietnam, Kamboja, Laos, dan Filipina.
Vice President of Corporate Administration SCG Paramate Nisnagornsen mengatakan konektivitas kawasan membuat pengembangan generasi muda menjadi agenda bersama.
“Melalui inisiatif seperti SCG Sharing the Dream, kami menciptakan kesempatan bagi generasi muda untuk memperluas perspektif, belajar lintas budaya, serta mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk berkembang di dunia yang berubah dengan cepat,” ujar Paramate.
Program seperti ASEAN Camp dan ESG Experience Trip menjadi sarana bagi peserta untuk berinteraksi dengan rekan sebaya dari negara lain sekaligus memahami isu keberlanjutan dari perspektif regional.
Survei internal terhadap 151 alumni SCG Sharing the Dream berusia 18–22 tahun menunjukkan 75 persen responden merasa program meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Sebanyak 55 persen juga mengaku semakin percaya diri memimpin perubahan di komunitas masing-masing.
Lima isu yang paling dikhawatirkan responden dalam 10 tahun mendatang adalah persoalan ekonomi dan kemiskinan, disrupsi teknologi dan AI, kesenjangan pendidikan, pencemaran lingkungan, serta kesehatan mental.
Dengan rangkaian program tersebut, SCG Sharing the Dream berupaya menjadikan beasiswa sebagai pintu masuk menuju pengembangan kompetensi dan karakter. Harapannya, generasi muda tidak hanya memperoleh kesempatan belajar, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata. ich
