Yogyakarta, Channelsatu.com – Paramitha Rusady dan Dr. Rizal Djibran menghadirkan warna berbeda dalam perayaan setengah abad Ramayana Ballet Purawisata Yogyakarta. Keduanya beradu peran dalam pertunjukan ketoprak humor yang menjadi salah satu segmen dalam Malam Anugerah Kebudayaan “Satkara Ratri”, Senin (10/8/2026).
Malam puncak perayaan berlangsung di Gazebo Garden Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta, dengan mengusung tema “50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya.” Tema tersebut merefleksikan perjalanan panjang Ramayana Ballet Purawisata sebagai salah satu ruang pertunjukan yang turut menjaga keberlangsungan seni dan budaya di Yogyakarta.
Di antara rangkaian pertunjukan dan pemberian penghargaan, ketoprak humor yang dikonsep Dr. Rizal Djibran hadir sebagai intermezzo yang memberikan suasana lebih cair. Pertunjukan tersebut melibatkan sejumlah aktor teater, dengan Paramitha dan Rizal menjadi bagian utama dalam interaksi di atas panggung.
Menariknya, pertunjukan tersebut dipersiapkan dalam waktu relatif terbatas dan memiliki durasi yang tidak panjang. Namun, kondisi itu tidak membuat unsur utama ketoprak kehilangan ruang.
Alur cerita dipadatkan, interaksi antarpemain dibangun secara cepat, sementara humor ditempatkan sebagai elemen untuk menjaga suasana pertunjukan tetap hidup. Ketepatan dialog, ekspresi, spontanitas, hingga timing menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dengan penonton.
Rizal Djibran sendiri tidak hanya tampil sebagai pemain, tetapi turut terlibat dalam penyusunan konsep. Dengan demikian, ketoprak humor tersebut dirancang sebagai bagian dari dramaturgi keseluruhan acara, bukan sekadar hiburan tambahan.
Dalam sebuah perhelatan yang memiliki banyak rangkaian, setiap segmen harus mampu menjalankan fungsi artistiknya. Ketoprak humor mengambil posisi sebagai jeda yang memberikan warna berbeda sekaligus mempertahankan perhatian penonton sebelum acara berlanjut ke segmen berikutnya.
Kolaborasi Paramitha Rusady dan Rizal Djibran menjadi salah satu daya tarik pertunjukan. Paramitha yang telah lama berkiprah di dunia seni peran membawa pengalaman panggung dan layar ke dalam permainan ketoprak tersebut.
Pertemuan dua karakter pemain dengan pengalaman berbeda menghasilkan interaksi yang mengandalkan ekspresi, spontanitas, dialog, serta respons langsung terhadap atmosfer penonton.
Dalam seni komedi, durasi bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Ketepatan momentum, karakter, dialog dan kemampuan pemain membaca respons penonton justru menjadi bagian penting dari pengalaman pertunjukan.
Keterlibatan Rizal Djibran dalam perayaan tersebut juga sejalan dengan kiprahnya di bidang seni dan perfilman. Ia dikenal sebagai pendiri Lembaga Penelitian Pengembangan Perfilman (LP3), pendiri Yayasan Budaya Indonesia Emas (YBIE), salah satu penggagas dan perancang Blue Print Ekosistem Perfilman, serta pendiri dan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI).
Latar belakang tersebut turut membentuk cara pandangnya terhadap produksi seni pertunjukan. Sebuah karya tidak hanya bergantung pada aktor, tetapi juga pada bagaimana konsep, pemain, ruang, waktu dan kebutuhan acara dipertemukan menjadi satu kesatuan.
Dalam kondisi persiapan terbatas, konseptor dituntut menentukan prioritas. Adegan harus efektif, karakter pemain perlu dimaksimalkan, sementara momentum komedi harus ditempatkan pada titik yang tepat.
Perayaan 50 tahun Ramayana Ballet Purawisata menjadi ruang yang memperlihatkan bahwa durasi bukan satu-satunya ukuran dalam membaca sebuah karya pertunjukan.
Pertunjukan yang panjang belum tentu memberikan dampak artistik lebih besar. Sebaliknya, sebuah segmen singkat dapat memiliki daya komunikasi yang kuat apabila memiliki konsep, struktur dan eksekusi yang tepat.
Ketoprak humor karya Rizal Djibran tersebut menunjukkan bagaimana keterbatasan waktu justru dapat menjadi tantangan kreatif. Konsep harus dibuat padat, tetapi tetap memberikan ruang bagi aktor untuk membangun karakter dan menyampaikan humor.
Pada akhirnya, panggung menjadi ruang pengujian sesungguhnya. Lampu, dialog, tempo, permainan aktor dan respons penonton bertemu secara langsung dalam satu peristiwa artistik.
Dalam konteks perayaan setengah abad Ramayana Ballet Purawisata, ketoprak humor tersebut menjadi salah satu warna yang memperkaya rangkaian Satkara Ratri.
Lebih dari sekadar pertunjukan komedi, kehadiran Paramitha Rusady dan Rizal Djibran memperlihatkan bahwa seni tradisi dan seni pertunjukan dapat terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan fungsi utamanya: membangun komunikasi antara karya, pemain dan penonton. ich
