Jakarta, Channelsatu.com – Perusahaan regional ASEAN, SCG, mencatat pertumbuhan EBITDA sebesar 17 persen secara year-on-year pada kuartal I 2026 menjadi Rp8,3 triliun atau setara 472 juta dolar AS. Di tengah tekanan geopolitik global akibat situasi Timur Tengah dan volatilitas harga energi serta bahan baku, perusahaan tetap mampu menjaga profitabilitas dan memperkuat resiliensi lintas sektor bisnisnya.
Dalam laporan kinerja terbarunya, SCG membukukan laba sebesar Rp3,4 triliun atau 197 juta dolar AS dengan total pendapatan penjualan mencapai Rp68,9 triliun atau sekitar 3,9 miliar dolar AS. Capaian tersebut disebut lahir dari strategi mitigasi risiko dan penguatan efisiensi operasional yang diterapkan secara agresif sepanjang awal tahun 2026.
President and CEO SCG, Thammasak Sethaudom, menegaskan bahwa perusahaan memilih langkah disiplin keuangan dan penguatan daya saing sebagai strategi utama menghadapi ketidakpastian global.
“Di tengah tingginya volatilitas yang masih berlangsung, baik di kawasan Timur Tengah maupun perekonomian global, SCG tetap menjaga disiplin keuangan secara ketat dan mempercepat upaya untuk memperkuat daya saing seluruh bisnis agar tetap tangguh,” ujar Thammasak Sethaudom.
Ia menambahkan, SCG akan terus memantau perkembangan global secara cermat sambil memperkuat adaptasi bisnis di berbagai lini. Menurutnya, posisi keuangan yang kuat dan ketersediaan kas menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang perusahaan di tengah dinamika ekonomi dunia.
Untuk menghadapi risiko pasokan global, SCG membentuk “Daily War Room” sebagai pusat pengambilan keputusan strategis tingkat tinggi. Lewat mekanisme ini, perusahaan mempercepat pengadaan bahan baku dari berbagai negara dan memastikan ketersediaan produk utama, khususnya High Value-Added Products (HVA), tetap aman di pasar regional.
Perusahaan juga memperluas penggunaan energi alternatif dan kendaraan listrik untuk distribusi produk guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan minyak dunia. Selain itu, restrukturisasi operasional dan penghentian bisnis yang dinilai kurang menguntungkan berhasil menghemat biaya hingga Rp3,46 triliun sepanjang 2026.
SCG kini fokus memperkuat infrastruktur regional untuk meningkatkan ketahanan industri ASEAN selama periode 2026-2027. Strategi tersebut meliputi konsolidasi jaringan produksi, adopsi robotik dan otomatisasi pabrik, pengembangan Green Product, Smart-Value Product, serta produk bernilai tinggi atau HVA.
Perusahaan juga mempercepat studi kemitraan bisnis olefin dan poliolefin antara SCGC dan GC di Thailand demi memperkuat rantai pasok industri petrokimia regional. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing industri ASEAN di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.
Di Indonesia, SCG mencatat pertumbuhan penjualan tertinggi di ASEAN sebesar 16 persen year-on-year dengan total penjualan Rp5,05 triliun. Indonesia bahkan menjadi penyumbang kontribusi penjualan terbesar SCG di kawasan ASEAN, mencapai 28 persen, didorong peningkatan ekspor regional serta pertumbuhan konsumsi domestik. ich
