Senin , 25 Januari 2021
Home / Showbiz / Film, Musik, TV / SAYAP KECIL GARUDA DENGAN KEPAK BESAR

SAYAP KECIL GARUDA DENGAN KEPAK BESAR

Jakarta,channelsatu.com:Saya mengenal sutradara Aditya Gumay sejak berkarya di media televisi dengan mengetengahkan program Lenong Bocah (LB), yang pada waktu itu ditayangkan di stasiun Televisi Pendidikan Indonesia, lebih dikenal TPI, sampai berlanjut, beberapa waktu kemudian, meliput syuting LB di kota Brisbane, Australia.

Perkenalan saya pada waktu itu ibarat sebuah pengantar semata, yang tidak menyeruak begitu jauh dengannya. Saya hanya mengenal sebagai sosok artis remaja yang memiliki talenta dalam hal menyutradai, lantaran dia berkecimpung sekaligus mengelola di Sanggar Ananda. Tidak lebih dan tidak kurang bahwa babak berikutnya Aditya Gumay menekuni dunia musik, bahkan sempat mengeluarkan album, termasuk pula sudah nyemplung ke dunia film.

Lama tidak melakukan komunikasi, sampai saya akhirnya menyaksikan film Emak Ingin Naik Haji yang dibesutnya, dan film tersebut adalah film keduanya. Film pertamanya tidak menarik perhatiannya, tapi sebaliknya film Emak sungguh menyentuh, mengingat ceritanya yang sederhana. Dan film Emak inipun digarap dengan kesederhanaan juga.

Konsep penyutradaraan Emak biasa saja, boleh dikata konvensional, sebagaimana kisah filmnya. Aditya Gumay menangani Emak yang berdasarkan cerita pendek karya Asma Nadia. tanpa neko-neko alias mengalir, bergulir saja. Tak berbeda pula dengan karakter filmnya yang tidak berdetak-detak. Emosi terkemas stabil, malah datar, sementara Aditya Gumay justru mengeksploitasi  perasaan yang terpendam.

Maksudnya Aditya Gumay bukan tipe sutradara yang meletup –letup jika berkerja. Demikianpun dalam setiap karyanya selalu menampilkan tokoh bersahaja yang memperlihatkan emosi terkontrol. Bukan sosok jagoan yang super. Melainkan tokoh yang biasa-biasa saja. 

Hal ini makin terasakan jika menonton film ketiganya bertajuk Rumah Tanpa Jendela serta  karya keempatnya, judulnya Umi Aminah. Saat menggarap Rumah Tanpa Jendela, saya  merajut kembali komunikasi dengan Aditya Gumay. Di satu sisi saya pun terlibat, setidaknya menangani promosi.

Dari produksi film Rumah itulah, saya mengamati bahwa misi Aditya dalam membuat film ialah untuk amal jariah. Artinya berbuat kebajikan melalui film, yang tidak lain merupakan media yang Aditya Gumay geluti saat ini. Lebih-lebih hasil tiket film Rumah sebagian didonasikan untuk gerakan peduli anak jalanan, dan sikap mulia semacam itu baru Aditya Gumay yang melakukan.

Hal lain yang pantas dicatat mengenai Aditya Gumay adalah  merasa bersyukur dan bersujud  masih bertahan sebagai sutradara. Menjadi sutradara baginya merupakan anugrah. Sedang dalam memproduksi film Aditya Gumay tidak melulu profit oriented. “Harus untung, tapi tidak harus menjual idealis,“ kata Aditya Gumay suatu ketika di Palembang saat kami menapak tilas masa kecilnya. 

Dengan tegas Aditya Gumay berprinsip membikin film yang baik atau yang dianggap kurang baik sama-sama mengorbankan waktu, tenaga dan biaya. Hanya saja bedanya film yang dianggap baik harusnya memiliki muatan moral serta kesadaran para pembuatnya. Paling tidak terdapat tanggungjawab sosial dalam setiap karyanya. Jika punya tanggung jawab pasti akan diapriasi serta mempunyai nilai positif di masyarakat.

Muatan moral dan kesadaran tentang tanggung jawab sosial makin kental tatkala Aditya Gumay membesut film Sayap Kecil Garuda, dan pada akhir Januari 2014 secara serentak main di gedung bioskop seluruh Indonesia. Sayap Kecil Garuda, film yang kisahnya menyentuh dan punya nilai positif, Aditya Gumay menyinggung soal kepimpinan serta masalah nasionalisme.  Menurutnya seperti yang tersirat di Sayap Kecil Garauda, “Pemimpin tak selalu harus pintar. Yang paling penting dicintai.“

Lakon Sayap Kecil Garuda, kepaknya sangatlah besar dan menggedor. Dengan cerita yang biasa, sederhana, namun  mengingatkan kita terhadap permasalahan yang kerap luput dalam ingatan. Kita terkadang tidak menggubris atau melupakan begitu saja.
Untuk itu Aditya Gumay sengaja mengingatkan melalui seorang tokoh biasa yang masih berusia remaja, bernama Pulung  yang dimainkan Rizky Black. Pulung, remaja kelas dua Sekolah Menengah Pertama sulit sekali bisa menghapal Pancasila serta makna lambangnya.  Pulung ini, ternyata, memiliki daya ingat yang lemah. Apalagi waktu Sekolah Dasar pernah tidak naik kelas dan ketika kelas dua SMP juga tidak naik kelas.

Sindiran bernas, dan salah satu bentuk cibiran jitu, betapa apa yang terjadi pada masyarakat kenyataan begitu, yakni banyak warga yang tidak hapal Pancasila. Namun demikian Pulung anak baik, sepulang sekolah, sebelum mengaji di surau, rajin membantu kakeknya, yang dipanggil Abah, untuk mengumpulkan beras perelek, yaitu sebuah budaya turun temurun di kampunng Pulung. Warga kampung mensedekahkan satu kaleng susu beras yang diletakkan di depan rumah.

Beras-beras itu dikumpulkan seminggu tiga kali dan diserahkan ke Pak RT untuk dijual murah ke warga kampung yang tidak berpunya. Uang hasil penjualan beras tersebut, selanjutnya dipinjamkan ke warga kampung yang tidak mampu pula untuk keperluan usaha atau keperluanlainnya.    

Sungguh kuat cerita Sayap Kecil Garuda yang sebetulnya menggambarkan  bangsa Indonesia memiliki karakter mulia.  Walau sekarang ini karakter tersebut mulai tergerus oleh situasi zaman. Karakter mulia itu tidak lain budaya tolong menolong atau gotong royong. Budaya gotong royong ini pada waktu dahulu kala sudah mendarah daging. Namun,sekali lagi, zamanlah yang membuat budaya itu memudar alias luntur.

Melalui Sayap  Kecil Garuda, Aditya Gumay mengorbankan waktu, tenaga dan biaya demi mewujudkan kesadaran yang meniadikan film karyanya ini sebagai amal jariah. Sayap Kecil Garuda, memang kepaknya sangat besar dan menggelegar. Muatan moral dalam film ini membuat kita tersentak untuk terus merenung sekaligus memaknai kembali arti nasionalisme.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dan gemuruhnya sistem ekonomi yang kita anut, memang terkadang kita lupa mengingat dan memaknai Pancasila. Sebaliknya cara pandang kita terhadap Pancasila sekarang ini menjadi bergeser subtansinya. Jadi apa yang musti dilakukan? Kiranya tidak ada salahnya menyaksikan film  Sayap Kecil Garuda yang  menggugah ini. Film ini mengingatkan kita yang seringkali lupa bahwa Pancasila adalah azas negara kita. (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis, esais, dan Redaktur Channelsatu. com)

About ibra

Check Also

Suasana prescon film Roh Mati Paksa "Cinta Berujung Maut" di XXI Epicentrum, jakarta Selatan, Jumat (7/2/2020) kemarin. Foto: Ki2.

Film Roh Mati Paksa “Cinta Berujung Maut” Tayang di 3 Negara Serumpun

Jakarta, channelsatu.com: Film horor aksyen produksi Super Media Pictures, dengan judul Roh Mati Paksa “Cinta …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *