Jakarta, Channelsatu.com – Sehari sebelum konferensi iklim terbesar dunia COP 30 dibuka, sebuah pemandangan dramatis mengalir di Sungai Amazon ketika kapal besar Yaku Mama Amazon Flotilla merapat di Belem, Brazil, pada 9 November. Dari kapal tiga tingkat yang tampak seperti set panggung epik film petualangan itu, lebih dari 50 pemimpin muda adat dari berbagai negara Amerika Latin turun membawa misi keadilan iklim. Di antara mereka, hadir Hero Aprila, Pemuda Adat asal Bengkulu yang mewakili BPAN, AMAN, dan GATC, menegaskan bahwa perjuangan masyarakat adat di Indonesia dan Amazon berada dalam arus yang sama.
Keberangkatan Hero dari Santarem menuju Belem melalui jalur air Amazon bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi simbol solidaritas lintas benua. Seolah menjadi aktor utama dalam film dokumenter yang menyoroti bentangan konflik ekologis, ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat adat di sepanjang sungai terbesar di dunia melawan ekstraksi tambang dan minyak yang terus merampas wilayah hidup mereka. Kapal kayu Yaku Mama bagai karakter ikonik yang membawa pesan global: “End Fossil Fuels – Climate Justice Now.”
Di awal Oktober, Yaku Mama memulai ekspedisi dengan ritual adat di Ecuador sebelum menempuh perjalanan lebih dari 3.000 kilometer melewati Peru dan Colombia menuju Brazil. Sebagai simbol Ibu Air, kapal ini merepresentasikan perlindungan terhadap sumber kehidupan, sekaligus menjadi panggung bergerak untuk memperlihatkan pada dunia bahwa masyarakat adat memiliki peran vital dalam penyerapan karbon dan pelestarian hutan Amazon. Aksi teatrikal ini dirancang memantik perhatian global jelang COP 30.
Hero menuturkan bagaimana banner di kapal itu menjadi medium komunikasi visual yang kuat layaknya properti film yang mempertegas pesan inti. Di sisi lain, kehadiran para pemuda adat di kapal bukan sekadar simbolik. Mereka menyusun tuntutan yang akan dibawa ke COP 30, termasuk perjuangan yang sama-sama mereka alami: kriminalisasi, perampasan wilayah adat, lemahnya perlindungan hukum, dan minimnya pendanaan iklim langsung kepada komunitas.
Bagi Indonesia, Hero menegaskan urgensi Undang-Undang Masyarakat Adat sebagai pondasi kebijakan. Selama lebih dari satu dekade, masyarakat adat di Tanah Air mendesak pengakuan yang kuat atas tanah, budaya, dan pengetahuan leluhur. Ia menyampaikan hal ini kepada para pemuda adat Amerika Latin, menambahkan bahwa perjuangan di Indonesia juga mengalami tekanan serupa, mulai dari intimidasi hingga represivitas aparat.
Dalam narasi perjalanan menuju Amazon, Hero menggambarkan bagaimana setiap komunitas yang ia singgahi memotret realitas serupa: ancaman ekstraksi sumber daya, kriminalisasi atas praktik ladang berpindah, hingga tekanan terhadap tradisi leluhur yang sebenarnya ramah lingkungan. Di sela percakapan itu, ia merasa terhubung dengan pengalaman masyarakat adat di wilayah lain di dunia yang sama-sama menjaga hutan demi masa depan planet.
Sesi diskusi di kapal menjadi ruang penting bagi mereka menyelaraskan tuntutan global. Hero membawa suara Indonesia yang sebelumnya dirumuskan dalam Global Youth Forum di Bali. Ia akan menyampaikannya di berbagai forum resmi COP 30, termasuk Shandia Forum dan Youth Climate Justice Statement. Tantangan bahasa tidak mengurangi tekadnya, meski ia mengakui komunikasi lintas budaya menjadi salah satu hambatan terbesar selama ekspedisi.
Ketika Yaku Mama merapat di Belem menjelang COP 30, Hero menyadari bahwa perjalanan panjang itu bukan klimaks, melainkan babak pembuka dari perjuangan yang lebih besar. Perlawanan masyarakat adat di Amazon dan Nusantara adalah kisah panjang yang tidak jauh berbeda: mempertahankan identitas, menjaga bumi, dan memastikan dunia mendengar suara mereka sebelum terlambat.
