Kota Depok. Channelsatu.com – Para jemaah haji yang baru kembali ke Indonesia diimbau untuk memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatan mereka setelah menempuh perjalanan panjang dari Arab Saudi. Selain menjalani aktivitas ibadah yang padat selama di Tanah Suci, para jemaah juga menghadapi kelelahan fisik akibat perjalanan udara yang memakan waktu berjam-jam.
Ketua Kloter 2 JKS Kota Depok, Cutra Sari, menegaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan para jemaah setibanya di Tanah Air adalah beristirahat secara cukup agar kondisi tubuh dapat kembali pulih setelah menjalani rangkaian ibadah haji dan perjalanan pulang yang melelahkan.
“Setelah tiba dari tanah suci ke tanah air, hal yang tentunya harus menjadi perhatian bagi para jemaah adalah pertama harus istirahat dengan cukup,” ujar Cutra Sari kepada berita.depok.go.id, Rabu (3/6/2026).
Selain pemulihan fisik, Cutra juga mengingatkan para jemaah untuk tidak mengabaikan gejala kesehatan yang muncul setelah kepulangan. Ia menilai keluhan seperti demam, batuk berkepanjangan, atau kondisi tubuh yang tidak kunjung membaik harus segera mendapatkan perhatian medis.
“Yang kedua juga jika merasa kondisi kesehatan kurang baik, terutama misalnya ada demam atau kemudian batuk yang berkepanjangan dan sebagainya, saya kira penting untuk menghubungi atau langsung memeriksakan kesehatannya,” katanya.
Menurut Cutra, pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat seperti puskesmas maupun dokter yang selama ini menjadi tempat konsultasi rutin para jemaah. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kondisi kesehatan tetap terpantau dan mencegah kemungkinan komplikasi penyakit.
“Terutama ke pusat kesehatan seperti puskesmas atau dokter-dokter yang memang menjadi langganan rutin oleh para jemaah kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena selama berada di Arab Saudi para jemaah beraktivitas di tengah jutaan orang dari berbagai negara. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan dan gangguan kesehatan lainnya yang kerap muncul setelah perjalanan internasional.
“Karena memang perjalanan jauh dari luar negeri dengan kondisi crowded yang luar biasa di tanah suci, saya kira sangat mungkin tertular oleh berbagai hal di sana, terutama penyakit yang kemudian bisa saja berpengaruh kepada kondisi jemaah haji kita sendiri,” jelasnya.
Di samping menjaga kesehatan fisik, Cutra juga mengajak para jemaah untuk mempertahankan nilai-nilai positif yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji. Menurutnya, makna haji tidak berhenti saat rangkaian ibadah selesai, melainkan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Jemaah haji tentu harus membawa nilai-nilai yang baik di sana, karena ketika melaksanakan ibadah haji, puncaknya mungkin hanya lima atau enam hari yang menjadi rangkaian ibadah puncaknya,” tuturnya.
Cutra menambahkan bahwa kemabruran haji tercermin dari kemampuan seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Ia berharap para jemaah dapat menjaga semangat ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, serta berkontribusi positif sesuai peran masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat.
“Namun sesungguhnya perjalanan sejatinya dari seorang haji atau hajah adalah baru saja dimulai, bagaimana menjaga kemabruran haji, bagaimana kemudian haji kita bisa memberikan manfaat bagi peradaban bangsa kita,” pungkasnya. ich
