Jakarta, Channelsatu.com – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR tidak hanya diwarnai kegiatan seremonial, tetapi juga aksi nyata pemberdayaan masyarakat. Melalui program Community Development bertajuk “Pesanggrahan Berpijar”, mahasiswa Public Relations & Digital Communication (PRDC27-1SP) mengajak warga mengolah limbah minyak jelantah menjadi berbagai produk ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan yang berlangsung di RPTRA Nusantara, Ulujami, Jakarta Selatan, Minggu (21/6/2026), digelar bekerja sama dengan Bank Sampah Akademi Kompos dan Kelurahan Ulujami. Program ini menjadi bagian dari implementasi semangat LSPR 2030 yang mengusung tema “Sustainable Education for a Sustainable World”.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kampanye digital dan program “Goes To School” di SMK Perwira sebagai upaya memperluas edukasi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga. Puncak acara berlangsung melalui workshop interaktif yang mengajarkan warga cara mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi, sabun, hingga biodiesel, serta ditutup dengan pameran hasil karya mahasiswa.
Ketua Pelaksana Pesanggrahan Berpijar, Chrisyella Cysile Tanada, mengatakan program tersebut dirancang untuk memberikan solusi nyata terhadap permasalahan limbah rumah tangga yang sering diabaikan masyarakat. Menurutnya, minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai sampah dapat diubah menjadi produk yang memiliki manfaat sekaligus nilai jual.
“Minyak jelantah yang tadinya sampah bau bisa jadi produk bernilai jual. Harapannya dampaknya berkelanjutan,” ujar Chrisyella.
Ia menambahkan, Pesanggrahan Berpijar dibentuk untuk memberdayakan warga melalui pemanfaatan limbah rumah tangga secara kreatif dan produktif. “Harapannya ilmunya tetap tinggal di masyarakat dan terus berkelanjutan meskipun kegiatan sudah selesai,” katanya.
Apresiasi terhadap program tersebut juga disampaikan Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kelurahan Ulujami, Subiyanto. Ia menilai keterlibatan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan sosial dan lingkungan di tengah masyarakat merupakan langkah positif yang perlu terus dikembangkan.
“Mahasiswa harus melihat masalah nyata yang dihadapi warga dan memberikan solusi. Ini menjadi bagian dari pembelajaran agar mahasiswa dekat dengan masyarakat dan memahami kebutuhan mereka secara langsung,” ujar Subiyanto.
Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Community Development, Salsabila Andi Akil, menegaskan bahwa limbah minyak jelantah memiliki dampak serius terhadap lingkungan maupun kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, edukasi mengenai pemanfaatan kembali limbah tersebut dinilai sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Warga Ulujami sebenarnya sudah cukup rajin mengumpulkan minyak jelantah. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa limbah tersebut bisa diolah menjadi produk seperti lilin aromaterapi yang berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga,” ungkap Salsabila.
Sebagai tindak lanjut, panitia membagikan booklet edukasi kepada peserta dan menjalankan kampanye “user generated content” (UGC) melalui media sosial Instagram agar pesan mengenai pentingnya pengelolaan limbah terus menyebar. Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada ruang kelas, tetapi juga hadir memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Mengusung tagline “Berubah Bersama, Berpijar Selamanya”, program Pesanggrahan Berpijar menjadi simbol kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah setempat, komunitas lingkungan, dan warga dalam menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Melalui inovasi sederhana berbasis ekonomi sirkular, mahasiswa LSPR menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari pengelolaan limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak bernilai. ich
