Jakarta, Channelsatu.com – Single “Kongkalikong” menjadi penanda kembalinya Widhi Lamong ke ruang publik musik Indonesia dengan pesan yang lantang dan berani. Lagu ini hadir sebagai kritik sosial terhadap praktik KKN yang dinilai semakin terbuka dan menggerus nilai keadilan sosial.
Dengan balutan pop rock yang enerjik, Widhi menyampaikan kritik terhadap kolaborasi gelap antara kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Lirik “Kongkalikong” merepresentasikan kemarahan sekaligus keprihatinan atas kondisi politik yang dianggap menjauh dari aspirasi rakyat.
Widhi Lamong bukan nama baru dalam musik bertema sosial. Sejak awal kariernya, ia dikenal sebagai musisi yang menjadikan lagu sebagai alat perlawanan dan refleksi, bukan sekadar hiburan. Konsistensinya ini membuat karya-karyanya memiliki karakter yang kuat dan jujur.
Dalam perjalanan panjang bermusik, Widhi telah menciptakan sekitar 100 lagu. Beberapa album yang pernah dirilis antara lain “Jaman Edan” bersama Metal Jowo Band pada 1995, album solo “Beda Rasa Beda Telinga” pada 2005, serta album kaset dan VCD “Revolusi Indonesia” pada 2010.
Setelah itu, Widhi memilih fokus merilis single agar pesan-pesannya lebih cepat menjangkau publik. Strategi ini sejalan dengan perkembangan platform digital yang memungkinkan musisi independen menyebarkan karya secara luas tanpa batasan industri konvensional.
Dalam keterangannya, Widhi mengungkapkan bahwa “Kongkalikong” lahir dari kegelisahan melihat pejabat yang sibuk pencitraan, namun abai terhadap tanggung jawab. Lagu ini menjadi bentuk protes terhadap praktik kerja sama jahat demi kekuasaan semata.
Meski sarat kritik, Widhi tetap mengemas lagunya dengan nada yang mudah diterima lintas generasi. Ia berharap pesan sosial dapat menjangkau pendengar muda tanpa kehilangan substansi kritik yang ingin disampaikan.
Kini, “Kongkalikong” dapat dinikmati di berbagai platform musik digital dan YouTube. Widhi Lamong berharap karya ini dapat ikut meramaikan khazanah musik Indonesia sekaligus mengingatkan bahwa musik masih memiliki peran penting sebagai suara nurani publik. ich
