Jakarta, Channelsatu.com – Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang semakin pesat membawa manfaat besar bagi masyarakat. Namun di balik kemudahan transaksi online, belanja digital, dan aktivitas internet sehari-hari, ancaman kejahatan siber juga terus meningkat dengan berbagai modus yang semakin canggih.
Data Indonesia Anti Scam Center (IASC) menunjukkan lebih dari 548.000 laporan kejahatan siber tercatat sepanjang Januari 2024 hingga April 2026. Penipuan online dan phishing menjadi dua jenis kejahatan yang paling banyak dilaporkan masyarakat.
Ironisnya, banyak kasus kejahatan siber berawal dari kebiasaan digital yang dianggap sepele oleh pengguna internet. Mulai dari mengklik tautan mencurigakan, menggunakan kata sandi yang lemah, hingga mengakses jaringan yang tidak aman menjadi celah yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan.
Tidak sedikit pengguna yang menganggap keamanan digital hanya bergantung pada teknologi atau perangkat yang digunakan. Padahal, perilaku sehari-hari saat berselancar di internet memiliki peran besar dalam menentukan tingkat keamanan data pribadi.
Salah satu kebiasaan yang sering diabaikan adalah membiarkan puluhan tab browser tetap terbuka selama berhari-hari. Kondisi tersebut berpotensi membuat browser menjalankan pelacak, iklan, atau aktivitas pengumpulan data di latar belakang tanpa disadari pengguna.
Selain itu, banyak pengguna internet yang terburu-buru menekan tombol “Terima Semua” pada pop-up cookie tanpa memeriksa pengaturan privasi yang tersedia. Kebiasaan ini dapat membuka akses lebih luas terhadap pengumpulan data perilaku pengguna.
Product Privacy & Security Advocate Opera, Michael Tegos, mengatakan ancaman digital saat ini semakin berkembang dan menyasar pengguna sehari-hari dengan metode yang lebih kompleks.
“Seiring pertumbuhan ekonomi digital global, ancaman yang menargetkan pengguna sehari-hari juga menjadi semakin canggih dan Indonesia bukan pengecualian. Banyak dari kita tidak menyadari seberapa besar kendali yang sebenarnya kita miliki terhadap keamanan online pribadi,” ujar Michael Tegos.
Menurutnya, langkah sederhana seperti memperbarui browser, meninjau ulang ekstensi yang digunakan, hingga lebih selektif dalam menerima cookie dapat membantu mengurangi risiko menjadi korban kejahatan siber secara signifikan. ich
