Kalbar, Chanelsatu.com – Upaya menjaga kelestarian hutan tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Hal inilah yang mendorong Kalara Borneo, usaha sosial pengolahan cokelat yang digagas Yohana Tamara, mengembangkan kebun kakao masyarakat adat di Kalimantan Barat agar kembali produktif dan memiliki nilai ekonomi.
Melalui pembelian biji kakao langsung dari pekebun serta pendampingan bersama organisasi lokal, Kalara berupaya menghidupkan kembali kebun-kebun yang sebelumnya terbengkalai karena hasil panennya sulit dipasarkan.
Inisiatif tersebut juga menjadi salah satu upaya mencegah alih fungsi kebun masyarakat menjadi perkebunan kelapa sawit. Sebab, ketika kakao tidak lagi memberikan penghasilan yang memadai, masyarakat berpotensi meninggalkan kebunnya dan mencari alternatif ekonomi lain.
Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, Kepala Produksi Kalara Borneo sekaligus bagian dari masyarakat adat Dayak Iban, mengatakan pihaknya ingin memastikan kebun kakao yang sudah dimiliki masyarakat tetap memberikan manfaat ekonomi.
“Kami tidak ingin kebun telantar itu berubah menjadi kebun kelapa sawit,” kata Yessy.
Menurutnya, masyarakat adat selama ini memiliki peran penting dalam menjaga hutan. Namun, kebutuhan hidup seperti biaya pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari tetap memerlukan penghasilan dalam bentuk uang.
“Masyarakatnya, oke, mereka jaga hutan. Tapi mereka dapat uang dari mana?” ujarnya.
Kalara kemudian membuka akses pasar dengan membeli biji kakao secara langsung dari pekebun. Hasil panen tersebut selanjutnya diolah menjadi produk cokelat di rumah produksi mereka di Pontianak.
Dalam menjalankan programnya, Kalara bekerja sama dengan Langkau Onet dan Yayasan Kalimajari untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat, termasuk melalui kegiatan sekolah lapang.
Pendampingan tersebut mencakup perawatan tanaman, penyediaan bibit, hingga peningkatan kualitas biji kakao. Kalara juga memberikan pemahaman mengenai standar fermentasi dan kualitas biji yang dapat diterima untuk proses produksi.
“Semakin bagus kalian kasih biji ke kita, semakin tinggi harga yang akan kita kasih ke kalian,” jelas Yessy mengenai pesan yang disampaikan kepada para pekebun.
Selain membuka pasar, Kalara mendorong sistem agroforestri atau kebun campuran dengan menanam kakao bersama berbagai tanaman lain. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan praktik tembawang yang telah lama dikenal masyarakat adat.
Di Kapuas Hulu, misalnya, kakao tumbuh bersama pisang, nanas, jengkol, petai, dan kopi. Sementara di Sintang, tanaman kakao berada di antara pohon karet, sedangkan di Sanggau tumbuh berdampingan dengan durian.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan memperoleh penghasilan dari beragam komoditas tanpa harus membuka lahan baru.
Bagi Yessy, menghidupkan kembali kebun kakao bukan sekadar mengembangkan usaha cokelat, melainkan juga menjaga hubungan antara masyarakat, sumber penghidupan, dan kelestarian hutan.
“Mungkin belum terlambat untuk kita menyelamatkan hutan yang ada di Kalimantan Barat,” tuturnya. ich
