Harmoni Dipulihkan, Pandji Pragiwaksono Harap Diterima Kembali di Toraja

Share

Toraja, Channelsatu.com – Apa yang bermula dari potongan candaan lama akhirnya berujung pada sebuah peristiwa budaya yang sarat makna. Komika Pandji Pragiwaksono menjalani persidangan adat Ma’Buak Burun Mangkali Oto’ di Tongkonan Layuk Kaero, Sangalla, Tana Toraja, sebagai bentuk penyelesaian atas polemik yang menyinggung tradisi Rambu Solo’.

Persidangan yang dihadiri perwakilan 32 wilayah adat Toraya ini bukan sekadar simbolik. Ia menjadi forum terbuka untuk mendengar, memahami, dan memulihkan relasi yang sempat renggang akibat persepsi dan respons publik yang berkembang luas di media sosial.

Dalam forum tersebut, Pandji mendengarkan secara langsung pandangan para tetua adat. Ia mengakui bahwa proses itu memberinya sudut pandang baru tentang sensitivitas budaya dan pentingnya memahami konteks lokal sebelum menyampaikan materi di ruang publik.

- Advertisement -

Ketua AMAN Toraya, Romba Marannu Sombolinggi, menekankan bahwa dinamika yang muncul pasca viralnya potongan video juga memunculkan respons emosional dari berbagai pihak. Karena itu, pemulihan dilakukan dua arah.

Keputusan adat menetapkan tanggung jawab pemulihan berupa satu ekor babi dan lima ekor ayam, yang akan digunakan dalam ritual adat. Mekanisme ini menegaskan filosofi Toraya: relasi manusia dengan sesama, alam, leluhur, dan Sang Pencipta harus kembali seimbang.

Sekretaris Tongkonan Kada, Daud Pangarungan, menjelaskan bahwa hukum adat Toraya tidak mengenal konsep hukuman dalam arti modern. Yang ada adalah alat pemulihan untuk mengembalikan harmoni sosial.

Kuasa hukum Pandji, Haris Azhar, menyebut proses ini sebagai contoh kuat bahwa masyarakat adat memiliki kapasitas menyelesaikan persoalannya sendiri. Ia menilai pendekatan tersebut bisa menjadi rujukan penyelesaian konflik berbasis komunitas di wilayah lain.

- Advertisement -

Dalam konteks yang lebih luas, persidangan adat ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi selalu berdampingan dengan tanggung jawab sosial. Di tengah era digital yang serba cepat, proses dialog yang sabar dan bermartabat justru menjadi jawaban untuk menjaga keberagaman Indonesia. ich

Read more

NEWS