Ericsson Mobility Report: 65 Paket 5G SA Resmi Mengguncang Industri Telekomunikasi

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Gelombang inovasi jaringan seluler global kembali bergerak cepat setelah Ericsson Mobility Report (EMR) November 2025 mencatat lonjakan signifikan adopsi 5G Standalone yang mendorong lahirnya layanan konektivitas terdiferensiasi berbasis *network slicing*. Data yang dirilis pada Kamis, 21 November 2025 itu menunjukkan bagaimana operator telekomunikasi di berbagai belahan dunia mulai beralih dari layanan berbasis volume menuju model baru berbasis nilai, membuka jalan bagi pengalaman digital yang lebih presisi bagi konsumen maupun industri.

Laporan tersebut mengungkap bahwa kini terdapat **33 operator seluler** yang menawarkan layanan konektivitas berbeda berdasarkan teknologi slicing, dengan total **65 penawaran komersial** yang telah melewati tahap *proof-of-concept*. Menariknya, **21 penawaran di antaranya baru diluncurkan sepanjang 2025**, menandakan percepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam adopsi jaringan 5G SA di industri global. Tren ini membuat konektivitas terdiferensiasi menjadi salah satu fokus utama operator dalam memonetisasi kapabilitas 5G.

Eric Ekudden, CTO Ericsson sekaligus penerbit EMR, menegaskan bahwa pergeseran tersebut merupakan hasil langsung dari kesiapan industri terhadap 5G SA. Ia menilai penyedia layanan kini lebih percaya diri menghadirkan paket berbasis kualitas layanan yang menyesuaikan kebutuhan spesifik sektor industri, mulai dari manufaktur, hiburan digital, hingga layanan publik. Menurutnya, 2025 menjadi tahun ketika implementasi *network slicing* benar-benar memasuki fase komersialisasi masif.

- Advertisement -

Sepanjang satu tahun terakhir, jumlah operator yang telah meluncurkan atau memulai peluncuran 5G SA meningkat menjadi lebih dari **90 operator**, naik sekitar 30 operator dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peneliti EMR juga mengidentifikasi **118 inisiatif slicing** yang dikerjakan oleh 56 operator, membuktikan bahwa teknologi ini tidak lagi menjadi eksperimen teknis melainkan strategi monetisasi yang diperhitungkan secara serius oleh para pelaku industri.

Di Indonesia, optimisme serupa ikut mengemuka. Daniel Ode, President Director Ericsson Indonesia, menilai bahwa konektivitas terdiferensiasi akan menjadi penentu kualitas transformasi digital nasional dalam beberapa tahun ke depan. Ia menegaskan kesiapan Ericsson mendukung operator dalam menghadirkan jaringan 5G SA yang aman, andal, dan efisien. Namun, ia juga mengingatkan bahwa ketersediaan spektrum yang cukup dengan harga terjangkau menjadi faktor penentu bagi percepatan 5G di Indonesia.

EMR 2025 juga memberikan konteks lebih luas mengenai ekosistem global yang tengah berkembang. Laporan tersebut memperkirakan bahwa jumlah langganan 5G akan menembus **6,4 miliar pelanggan pada 2031**, setara dua pertiga pengguna seluler dunia. Dari jumlah itu, **4,1 miliar** diproyeksikan berbasis 5G SA, enam kali lipat dari angka yang dicapai saat ini. Fixed Wireless Access (FWA) juga mencatat perkembangan pesat dengan prediksi **1,4 miliar pengguna pada 2031**, dan 90 persen di antaranya ditopang jaringan 5G.

Selain itu, trafik data global terus meningkat, tumbuh **20 persen** sepanjang 2024–2025 dan diperkirakan tumbuh rata-rata **16 persen** per tahun hingga 2031. Dengan jaringan 5G yang diprediksi menangani **83 persen** trafik global pada 2031, kebutuhan akan jaringan yang fleksibel, terukur, dan terdiferensiasi menjadi semakin mendesak.

- Advertisement -

Di tengah dinamika tersebut, EMR juga menyentuh fase awal perkembangan 6G. Ericsson memperkirakan peluncuran komersial pertama akan dimulai dari negara-negara dengan ekosistem digital paling maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Meski masih jauh dari adopsi massal, 6G diprediksi mencapai 180 juta langganan pada akhir 2031, membuka babak baru dalam evolusi jaringan seluler global.

Dengan seluruh dinamika itu, industri telekomunikasi global memasuki era baru: era di mana kualitas konektivitas tidak lagi ditentukan oleh kecepatan semata, melainkan kemampuan jaringan melayani kebutuhan secara tepat, presisi, dan terukur. Sebuah era ketika network slicing menjadi bahasa baru inovasi digital dunia. ich

Read more

NEWS