Jakarta, Channelsatu.com – Saat suhu global terus meningkat dan kawasan tropis semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim, suara orang muda dari Indonesia menggema hingga level tertinggi perundingan internasional. Dalam Konferensi COP30 mendatang di Brasil, dua pemuda asal Papua—Iqbal Kaplele dan Vanessa Reba—akan menyampaikan Deklarasi Pemuda Global untuk Keadilan Iklim, mewakili ribuan generasi muda dari negara-negara Selatan yang selama ini dipinggirkan dari ruang kebijakan lingkungan global.
Deklarasi ini merupakan hasil dari kolaborasi lebih dari 600 orang muda dari berbagai negara yang tergabung dalam pelatihan intensif Life of Pachamama. Selama lebih dari 30 sesi, mereka membahas pentingnya demokratisasi ruang iklim, akuntabilitas korporasi, dan perlindungan terhadap pembela lingkungan. Lima agenda strategis yang dibawa antara lain partisipasi bermakna, desentralisasi berbasis wilayah, keterbukaan informasi, dan pendirian observatorium pemuda.
Keikutsertaan Iqbal dan Vanessa bukan hanya representasi simbolik, melainkan cermin dari perjuangan masyarakat adat dan pemuda di Indonesia dalam mempertahankan ruang hidup mereka. Papua, sebagai salah satu benteng terakhir pertahanan iklim Indonesia, menghadapi ancaman serius dari tambang, perkebunan skala besar, dan pembangunan yang tidak berbasis ekologi. Mereka hadir membawa cerita dari tanah yang luka namun penuh daya hidup.
Bagi Iqbal, krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi soal keadilan dan keberlangsungan hidup komunitas lokal. Ia menyoroti pentingnya mengesahkan RUU Masyarakat Adat sebagai langkah konkret menegakkan keadilan iklim. Ia percaya bahwa pengakuan hak adat bisa menjadi jawaban terhadap laju deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam yang masif, karena masyarakat adat terbukti menjadi penjaga alam yang paling efektif.
Vanessa menambahkan bahwa perempuan muda dari komunitas adat kerap mengalami dampak berlapis dalam krisis iklim, mulai dari kehilangan sumber air bersih hingga hilangnya ruang budaya. Namun suara mereka jarang masuk ke meja perundingan. Keterlibatannya di COP30 menjadi tonggak perjuangan yang membawa semangat pemberdayaan dari akar ke panggung dunia, demi mewujudkan masa depan yang adil, setara, dan ekologis.
Direktur Eksekutif Life of Pachamama, Juan David Amaya, menyatakan bahwa deklarasi ini bukan hanya seruan moral, tetapi strategi kepemimpinan kolektif. Ia menegaskan bahwa pemuda dari negara-negara Selatan punya kapasitas untuk memimpin perubahan, bukan hanya mengikuti arus kebijakan negara maju. Dunia harus mulai mendengar, bukan hanya mendikte.
COP30 dipandang sebagai titik balik, tempat di mana isu krisis iklim harus kembali didekati dengan pendekatan keadilan sosial dan ekologis. Dalam forum tersebut, deklarasi ini akan menjadi alat negosiasi sekaligus cermin realitas tentang betapa timpangnya sistem pengambilan keputusan global selama ini. Orang muda dari wilayah yang paling terdampak tak lagi ingin hanya jadi penonton.
Keterlibatan Iqbal, Vanessa, dan rekan-rekan mereka membawa harapan baru dalam ekosistem diplomasi iklim. Mereka menuntut dunia berhenti merumuskan masa depan tanpa melibatkan generasi yang akan menjalaninya. Deklarasi ini tidak hanya merepresentasikan suara pemuda Indonesia, tetapi juga semangat global untuk menyelamatkan bumi dengan pendekatan inklusif dan berbasis keadilan. ich
