Kota Tangerang, Channelsatu.com – Sebanyak 46 ibu rumah tangga dan anggota PKK RW 013 Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang memadukan edukasi hipertensi dengan pelatihan pembuatan minuman Telang–Timun–Stevia (TTS), Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan diselenggarakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi D3 Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Poltekkes Kemenkes Banten yang diketuai drh. Aminah, M.Si., bekerja sama dengan UMKM Sesegeritu. Kolaborasi ini menggabungkan edukasi kesehatan, pemanfaatan potensi lokal, serta keterampilan produksi sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat yang lebih sehat sekaligus produktif.
RW 013 memiliki sejumlah modal komunitas yang mendukung upaya tersebut. Selain kelompok PKK yang aktif, warga telah mengelola kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang di antaranya ditanami telang dan stevia. Potensi ini menjadi salah satu dasar pengembangan minuman TTS sebagai produk berbasis sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.
Budaya hidup aktif juga telah tumbuh di lingkungan RW 013 melalui komunitas senam yang rutin beraktivitas setiap Sabtu dan Minggu. Anggota komunitas tersebut turut berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Kehadirannya menjadi bagian penting dari program karena menunjukkan bahwa upaya menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik telah berjalan di tingkat komunitas dan dapat diperkuat dengan peningkatan literasi kesehatan.

Kegiatan ini juga berangkat dari perhatian terhadap hipertensi di lingkungan setempat. Data internal yang digunakan dalam penyusunan program menunjukkan bahwa kasus hipertensi pada kelompok usia di atas 35 tahun tergolong cukup dominan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya edukasi kesehatan yang berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama, yang selaras dengan pesan mengenai pentingnya aktivitas fisik sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Peserta kemudian mengikuti pre-test untuk melihat pemahaman awal mengenai hipertensi, pola hidup sehat, serta bahan yang digunakan dalam pembuatan minuman TTS.
Edukasi mengenai hipertensi disampaikan oleh M. Arief Fadillah, S.ST., M.Kes. dari perspektif laboratorium medik. Peserta diajak memahami hipertensi sekaligus mengenal pentingnya pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.
Pesan mengenai pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam sesi tersebut. Aktivitas fisik yang teratur, pola makan sehat, pembatasan konsumsi garam, dan pemeriksaan tekanan darah secara rutin ditekankan sebagai langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu menjaga tekanan darah. Materi evaluasi yang digunakan dalam kegiatan juga menempatkan pemeriksaan tekanan darah rutin dan penerapan pola hidup sehat sebagai pesan utama bagi peserta.

Setelah mendapatkan edukasi kesehatan, peserta mengikuti workshop pembuatan minuman TTS yang dipandu oleh Ilma Inaroh Azizah dari UMKM Sesegeritu. Dalam sesi praktik tersebut, bunga telang menjadi bahan utama yang dipadukan dengan timun dan stevia, serta bahan pendukung seperti serai dan lemon.
Peserta mengikuti proses pembuatan secara langsung, mulai dari menyiapkan sari timun, mengolah bunga telang dan bahan lainnya, menyaring hasil rebusan, hingga menambahkan lemon dan stevia sebelum minuman disajikan. Formulasi yang digunakan dalam workshop telah disiapkan sebagai panduan agar proses pembuatan dapat dipraktikkan kembali secara konsisten.
Salah satu bagian menarik dalam praktik adalah perubahan warna alami minuman telang. Setelah sari lemon ditambahkan, warna biru dari bunga telang berubah menjadi ungu kebiruan. Perubahan tersebut terjadi akibat perubahan tingkat keasaman yang memengaruhi pigmen antosianin pada bunga telang.
Meski diperkenalkan dalam kegiatan yang mengangkat edukasi hipertensi, minuman TTS tidak ditempatkan sebagai obat atau pengganti terapi medis. Program menggunakan pendekatan edukatif dengan memperkenalkan TTS sebagai alternatif minuman yang dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat. Dalam rancangan program, klaim mengenai minuman tersebut secara tegas ditempatkan sebagai klaim edukatif dan bukan klaim pengobatan.

Keterlibatan UMKM Sesegeritu juga menjadi bagian dari strategi keberlanjutan kegiatan. Sesegeritu tidak hanya terlibat dalam workshop, tetapi diposisikan sebagai mitra dalam pendampingan produksi dan pemasaran sehingga keterampilan yang diperoleh peserta memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, drh. Aminah, M.Si yang biasa disapa Bu Ami menjelaskan bahwa kegiatan dirancang dengan menghubungkan aspek kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Potensi yang telah dimiliki RW 013—mulai dari kebun TOGA, kelompok PKK yang aktif, hingga kebiasaan berolahraga bersama—menjadi modal yang dapat diperkuat melalui pendampingan.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada kemampuan membuat minuman TTS. Harapannya, ibu-ibu semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan sekaligus mampu memanfaatkan potensi yang sudah tersedia di lingkungannya menjadi kegiatan yang produktif dan dapat dikembangkan bersama,” kata Bu Ami.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim pengabdian juga menyerahkan sejumlah sarana kepada mitra. Peralatan tersebut mencakup sarana pendukung pemantauan kesehatan maupun kegiatan produksi. Program ini memang dirancang tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Tahapan berikutnya diarahkan pada pendampingan produksi, pengelolaan usaha, branding dan pemasaran, hingga penguatan kelompok usaha berbasis PKK agar keterampilan yang telah diperoleh dapat berkembang menjadi kegiatan yang mandiri dan berkelanjutan.

Kebun TOGA, komunitas senam Sabtu–Minggu, serta ibu rumah tangga dan anggota PKK yang aktif menjadi modal penting bagi RW 013 untuk membangun lingkungan yang lebih sehat dan produktif. Melalui kolaborasi dengan Prodi D3 TLM Poltekkes Kemenkes Banten dan UMKM Sesegeritu, potensi tersebut kini mulai dirangkai dalam satu gerakan: membiasakan aktivitas fisik, meningkatkan literasi kesehatan, dan mengolah bunga telang dari lingkungan sekitar menjadi TTS—Telang, Timun, Stevia—yang berpotensi dikembangkan sebagai produk komunitas. ich/*
