Jakarta, Channelsatu.com – Ekonomi aplikasi seluler dunia kembali menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah dinamika privasi dan kenaikan biaya digital marketing. Laporan terbaru **Mobile App Growth Report: 2025 Edition** dari **Adjust**, perusahaan analitik dan pengukuran terkemuka, mengungkapkan bahwa instalasi dan sesi aplikasi global masing-masing naik **11% dan 10% year-on-year (YoY)** pada paruh pertama 2025. Lonjakan ini menandakan kemampuan para pengembang dan pemasar beradaptasi melalui **pemanfaatan kecerdasan buatan (AI)**, **penargetan personalisasi**, serta **strategi retensi pengguna** yang semakin matang.
Direktur Konten dan Insight Adjust, **Tiahn Wetzler**, menjelaskan bahwa tantangan utama kini bukan kekurangan data, melainkan menemukan sinyal paling relevan untuk diolah. “Keterlibatan dan retensi kini sama pentingnya dengan volume instalasi. Karena itu, kami memperkenalkan **Growth Score** sebagai tolok ukur baru yang membantu pemasar mengidentifikasi prioritas investasi dan menjaga efisiensi di tengah kompetisi global,” ujarnya.
Dalam laporan yang menganalisis lebih dari **5.000 aplikasi global**, Adjust menilai performa berdasarkan empat indikator utama: **jumlah instalasi, efisiensi biaya per instalasi (CPI), jumlah sesi harian per pengguna, dan tingkat retensi**. Hasilnya, rata-rata **Growth Score global mencapai 29,2**, menjadi barometer baru dalam memahami dinamika pasar aplikasi di berbagai wilayah dan vertikal industri.
Kawasan **Asia Pasifik (APAC)** tampil sebagai pemimpin dengan **Growth Score rata-rata 45**, jauh di atas global. Negara-negara seperti **India (49)** dan **Indonesia (43,1)** menunjukkan potensi luar biasa dalam pertumbuhan pengguna, efisiensi biaya, dan keterlibatan jangka panjang. Momentum serupa juga terlihat di **Vietnam (33,9)** dan **Filipina (33,3)**, yang menegaskan kekuatan demografi muda dan adopsi digital yang pesat.
Di sisi lain, pasar yang lebih matang seperti **Jepang (30,9)** dan **Malaysia (29,9)** fokus memperkuat monetisasi dan mempertahankan loyalitas pengguna. Temuan ini memperlihatkan bahwa kawasan APAC tidak hanya unggul secara kuantitas, tetapi juga kualitas strategi pertumbuhan berbasis data.
Kategori **gim mobile** menjadi motor utama pertumbuhan dengan skor **37**, diikuti aplikasi **musik (41,2)** dan **hiburan digital**. Subvertikal seperti **gim kartu** dan **papan permainan** memperkuat posisi Asia sebagai pusat kreativitas mobile entertainment dunia. Dengan estimasi pendapatan mencapai **US$66,7 miliar tahun ini**, APAC menegaskan dirinya sebagai **kekuatan ekonomi aplikasi terbesar di dunia**.
Sementara itu, negara-negara seperti **India**, dengan **650 juta gamer aktif** dan biaya akuisisi hanya **US$0,03**, menjadi contoh ekstrem bagaimana efisiensi dan volume dapat bersinergi menghasilkan pertumbuhan besar. **Indonesia dan Vietnam** juga menempati posisi tiga besar global untuk pertumbuhan aplikasi gim tercepat, memperlihatkan pergeseran signifikan dalam dinamika ekonomi digital.
“Asia Pasifik kini menjadi pusat gravitasi ekonomi aplikasi dunia. Kombinasi penetrasi digital, kreativitas pengembang, dan strategi berbasis data menjadikan kawasan ini motor utama inovasi global,” tutup **April Tayson**, Wakil Presiden Regional Adjust untuk INSEAU.
