Surakarta, Channelsatu.com – Kota Surakarta kembali membuktikan eksistensinya sebagai poros budaya nasional melalui gelaran ART SURA 2025 yang sukses menyatukan ratusan seniman, kolektif, dan penikmat seni dalam sebuah perayaan lintas medium dan generasi. Di bawah tema “Wedangan, Rindu, dan Kenangan”, ART SURA tak hanya menghadirkan seni rupa dan digital interaktif, tetapi juga menjadi ajang refleksi dan penciptaan atmosfer kebudayaan baru yang berakar dari lokalitas Surakarta.
Lebih dari 300 karya ditampilkan, mulai dari lukisan ekspresionistik, Art Toys, NFT, seni berbasis AI, hingga pertunjukan VR dan AR fashion. Pengunjung dapat merasakan langsung sensasi meluncur dalam lukisan Made Wianta menggunakan teknologi virtual reality, atau mencoba mengenakan pakaian digital dalam instalasi layar besar. Kolaborasi antara teknologi dan seni ini menciptakan pengalaman yang tak terlupakan, membuktikan bahwa pameran seni dapat menjembatani masa lalu dan masa depan secara harmonis.
ART SURA 2025 juga menampilkan pertunjukan seni panggung yang mengesankan, seperti tari “The Human Boar” karya Sus Scrofa dan pertunjukan tradisional “Bambangan Cakil” dari SMKN 8 Surakarta. Sebagai penutup, wayang kulit kontemporer oleh Dalang Muda Ki Amar Pradopo menghadirkan lakon Gatotkaca dalam balutan visual baru yang memukau. Ini menjadi simbol bahwa warisan budaya bisa berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Keterlibatan para tokoh seperti Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Helmy Yahya, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya hingga Mangkunegara X, memperkuat legitimasi ART SURA sebagai agenda penting dalam peta seni nasional. Mereka melihat ART SURA bukan hanya sebagai perhelatan seni, tetapi juga sebagai landasan kebijakan dan arah masa depan industri kreatif Indonesia yang berbasis komunitas dan teknologi.
Visi ART SURA sebagai ruang kolaboratif juga tercermin dalam berbagai aktivitas publik yang digelar sepanjang acara, seperti workshop seni anak-anak, lomba seni rupa, live painting, hingga peluncuran platform digital LAPALAPA.ART. Kegiatan ini tak hanya menghidupkan ekosistem seni, tetapi juga membuka ruang belajar yang menyenangkan bagi generasi muda.
ART SURA 2025 memperkenalkan model desentralisasi pameran yang menyebar di berbagai lokasi ikonik di Surakarta. Museum, rumah budaya, studio seni hingga kafe menjadi bagian dari rute seni yang terhubung secara tematik dan spasial. Inisiatif ini memperkuat pengalaman pengunjung sekaligus memperluas dampak ekonomi kreatif di tingkat lokal.
Adrian Zakhary menyampaikan bahwa ART SURA ke depan akan dikembangkan menjadi intellectual property yang tak hanya hadir secara tahunan, tetapi bisa menjelma dalam bentuk galeri tetap atau ruang interaktif yang hidup sepanjang tahun. Konsep ini sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan akses terhadap seni yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dengan totalitas penyelenggaraan, ragam kolaborasi lintas disiplin, serta respon positif dari publik dan pemangku kepentingan, ART SURA 2025 telah melampaui sekadar festival. Ia menjadi gerakan kebudayaan yang lahir dari komunitas dan tumbuh bersama masyarakat. Dari Surakarta, denyut seni nusantara kini bergetar ke seluruh Indonesia, bahkan dunia. ich
