Aksi ARMY dan Multi-Fandom Warnai COP30: Ketika Semangat Idol Mengalir ke Gerakan Iklim Global

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Suasana COP30 tahun ini terasa berbeda. Di antara panel-panel teknis yang biasanya kaku, sesi bertema budaya justru menjadi salah satu yang paling ramai didatangi. Di Paviliun Entertainment and Culture, ratusan mata tertuju pada panel “K-pop Fans for Climate Action,” tempat para aktivis muda dari berbagai fandom berbagi cerita perjuangan lingkungan dengan sentuhan khas dunia hiburan.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Marliana Faciroli, perwakilan ARMY Help The Planet, gerakan lingkungan berbasis penggemar BTS yang lahir di Brasil. Dengan pembawaan yang hangat dan emosional, Marliana mengingat kembali kampanye “ARMY for the Amazon” yang mereka lakukan pada 2019 saat kebakaran hutan melanda kawasan Amazon. Ia menyebut bahwa semangat yang mereka bawa sama seperti ketika mendukung idola—intens, penuh dedikasi, tetapi kini diarahkan untuk menyelamatkan bumi.

Panel semakin hidup ketika Marliana menyebut inspirasi terbesar mereka: BTS. Group global tersebut tidak hanya berbicara tentang cinta dan keberanian dalam lagu, tetapi juga secara aktif terlibat dalam kampanye berskala internasional bersama UNICEF. Menurut Marliana, itulah yang menggerakkan ARMY global ikut turun tangan. Kisah-kisah aksi sosial fandom yang sebelumnya hanya terdengar di media sosial kini bergema dalam ruang konferensi internasional.

- Advertisement -

Profesor Gyutag Lee dari George Mason University Korea menambahkan sudut pandang akademis bahwa fandom K-pop adalah fenomena budaya global yang kini berkembang menjadi kekuatan sosial. Sementara Cheulhong Kim dari Korea Cultural Centre Brasil menilai aktivisme ini sebagai bentuk kolaborasi budaya yang mampu mempercepat kesadaran iklim di kalangan remaja dan anak muda.

Di tengah diskusi, suasana terasa seperti pertemuan dua dunia: diplomasi iklim yang serius dan gairah fandom yang penuh kreativitas. Para aktivis muda menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan tidak selalu harus tampil dalam demonstrasi besar atau laporan teknis. Kadang, ia hadir dalam kampanye online, proyek donasi, video kreatif, hingga pesan-pesan penuh cinta khas dunia fandom.

Yang menarik, para panelis sepakat bahwa fandom K-pop membuat isu iklim lebih “relatable.” Ketika pesan lingkungan disampaikan lewat budaya pop, respons publik menjadi lebih cepat dan lebih dalam. Dari Brasil hingga Indonesia, muncul gelombang aktivisme yang memanfaatkan kekuatan komunitas digital untuk menekan perusahaan dan pemerintah agar lebih transparan dan ambisius.

Di COP30, suara itu menjadi bukti bahwa generasi yang tumbuh dengan K-pop juga adalah generasi yang siap berjuang demi masa depan bumi. Keaktifan mereka “mengidolakan perubahan,” bukan hanya musisi. ich

Read more

NEWS