Surabaya, Channelsatu.com – Kesenjangan akses panggung antara Jakarta dan daerah kembali disorot seiring masih kuatnya pola pengembangan talenta yang bersifat Jakarta-sentris. Di tengah kekayaan budaya Indonesia yang melahirkan talenta vokal dan seni dari berbagai penjuru nusantara, keterbatasan akses dan tingginya biaya menuju pusat industri kerap menjadi penghambat serius bagi generasi muda daerah.
Menjawab tantangan tersebut, inisiatif “Aice Got You! Panggung Crispymu!” hadir sebagai langkah konkret mendesentralisasi ruang ekspresi seni. Melalui rangkaian roadshow di lima kota besar, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Surabaya, program ini membuka panggung profesional langsung di daerah, tanpa harus menunggu kesempatan datang dari ibu kota.
Surabaya menjadi titik penutup yang paling mencerminkan besarnya energi kreatif lokal. Selama tiga hari penyelenggaraan di Balai Pemuda, tercatat 135 peserta ambil bagian, dengan 48 peserta tampil di hari pertama, 65 peserta di hari kedua, dan 22 finalis terbaik di hari puncak. Angka ini menjadi cerminan kuatnya kebutuhan akan ruang tampil yang setara dan berkelanjutan.
Penyanyi dan penulis lagu nasional Isyana Sarasvati yang hadir sebagai juri mengaku terkesan dengan kualitas peserta di Surabaya. Menurutnya, karakter vokal dan musikalitas yang ditampilkan lahir dari proses panjang yang jujur. “Semua peserta bagus banget. Menang atau kalah bukan masalah, yang penting adalah pengalaman dan pembelajaran yang mereka dapatkan di panggung ini,” ujar Isyana.
Ia menilai panggung daerah justru menghadirkan kejujuran musikal yang jarang ditemui di kompetisi besar. Pengalaman tampil di depan publik dan juri profesional menjadi bekal penting bagi talenta muda untuk melangkah ke fase berikutnya dalam karier seni mereka.
Program ini juga menegaskan bahwa bakat tidak lahir dari pusat industri semata. Dengan pendekatan menjemput bola, akses panggung dapat membuka potensi yang selama ini terpendam oleh jarak dan keterbatasan ekonomi.
Keberhasilan Surabaya menutup rangkaian roadshow memperlihatkan bahwa desentralisasi panggung seni bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata bagi ekosistem musik nasional.
Melalui model ini, panggung seni diharapkan tak lagi terpusat di Jakarta, melainkan tumbuh merata mengikuti denyut kreativitas di daerah. ich
