Kampanye “Bring K-pop Not Coal” Menggema

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Kritik terhadap Hana Bank tidak hanya datang dari aktivis lingkungan, tetapi juga dari komunitas penggemar K-pop yang selama ini menjadi bagian penting strategi pemasaran bank tersebut. Pemilihan bintang K-pop seperti G-Dragon dan An Yu-jin sebagai brand ambassador kini justru memicu sorotan tajam atas praktik pendanaan yang dinilai bertolak belakang dengan nilai generasi muda.

Para penggemar menilai strategi pemasaran yang menggaet ikon K-pop seharusnya diiringi dengan tanggung jawab sosial dan iklim yang konsisten. Mereka mempertanyakan relevansi citra modern dan progresif yang dibangun Hana Bank dengan dukungan terhadap industri batu bara berskala besar di Indonesia.

Nurul Sarifah, juru kampanye KPOP4PLANET Indonesia, menegaskan bahwa masa depan lembaga keuangan sangat bergantung pada generasi muda. Ia menyebut bahwa tanpa komitmen iklim yang nyata, kepercayaan publik akan runtuh meski didukung popularitas selebriti global.

- Advertisement -

Kampanye bertajuk “Hana, Bring K-pop Not Coal” yang diluncurkan sejak Desember lalu menjadi wadah konsolidasi suara penggemar. Kampanye ini bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia dan mendapat sambutan luas dari komunitas K-pop Indonesia.

Sebanyak 12 klub penggemar besar, termasuk penggemar G-Dragon, Big Bang, dan Blackpink, telah bergabung dalam gerakan ini. Total pengikut gabungan mereka mencapai lebih dari 280 ribu orang, mencerminkan besarnya daya jangkau kampanye berbasis budaya populer.

Para penggemar menilai membawa K-pop ke Indonesia sebagai simbol kolaborasi budaya jauh lebih bernilai dibandingkan membawa investasi batu bara yang memperparah krisis lingkungan. Mereka menyebut langkah tersebut sebagai strategi cerdas bagi Hana Bank untuk memperkuat reputasi global.

Selain soal emisi, kritik juga diarahkan pada ketimpangan sosial yang muncul akibat proyek industri ekstraktif. Warga lokal di Pulau Obi disebut menanggung dampak lingkungan, sementara keuntungan ekonomi mengalir ke korporasi dan lembaga keuangan internasional.

- Advertisement -

Tekanan publik ini menunjukkan bahwa loyalitas penggemar tidak lagi bersifat pasif. Budaya fandom kini berkembang menjadi kekuatan sosial yang mampu mempengaruhi narasi bisnis dan kebijakan perusahaan multinasional. ich

Read more

NEWS