Tangsel, Channelsatu.com – Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan, mengajak masyarakat untuk menjadikan kepedulian terhadap sampah sebagai gerakan bersama. Hal itu ia sampaikan saat memimpin kegiatan bersih-bersih sampah di Pasar Apung Situ Pondok Jagung, yang juga digelar dalam rangka memperingati World Clean Up Day tingkat Kota Tangsel.
Kegiatan yang melibatkan elemen masyarakat ini bukan hanya sekadar aksi membersihkan lingkungan, tetapi juga diisi dengan edukasi pengelolaan sampah serta penimbangan sampah. Pilar menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan bisa ditanggung pemerintah saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. “Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah daerah tapi tugas kita bersama. Kami ingin mengajak komunitas yang ada di Tangerang Selatan untuk sama-sama peduli dan menjaga lingkungan kita bersama,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pilar memaparkan fakta bahwa permasalahan sampah masih menjadi tantangan utama di Tangsel. Setiap hari, jumlah sampah yang dihasilkan mencapai sekitar 1.000 ton. Ia menekankan bahwa sebagian besar sampah itu bersumber dari rumah tangga, restoran, warung, pasar, hingga kafe. “Lalu darimana sampah ini berasal? Sampah-sampah ini berasal dari rumah tangga kita, rumah-rumah kita sendiri, restoran, cafe, warung, pasar-pasar dan sebagainya,” ungkapnya.
Pemerintah Kota Tangsel, menurutnya, terus melakukan penanganan dari hulu ke hilir. Salah satunya melalui program pengolahan sampah berbasis masyarakat, hingga rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) yang diproyeksikan memakan waktu tiga hingga empat tahun. “Jadi bapak ibu, membangun PSEL butuh 3–4 tahun. Oleh karenanya, kita butuh langkah jangka pendek menangani permasalahan sampah, bagaimana kita juga ambil peran dalam mensukseskan program bank sampah, dan juga TPS3R,” jelas Pilar.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Tangsel tengah menyiapkan aturan yang mewajibkan setiap lingkungan memiliki bank sampah. Pilar menekankan pentingnya peran ketua lingkungan, lurah, dan camat untuk memastikan program tersebut berjalan masif. “Maka dari itu kita dorong, RW ini harus jadi ketua bank sampah dan lurah harus menggerakkan TPS3R dan harus punya ini setiap kelurahan,” tegasnya.
Gerakan itu diharapkan mampu menekan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pilar menyebut bahwa jika setiap lingkungan bisa mengolah sampahnya secara mandiri, beban TPA akan berkurang signifikan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengelolaan sampah.
Kegiatan bersih-bersih di Pasar Apung Situ Pondok Jagung pun disambut antusias warga yang ikut terlibat. Edukasi mengenai cara memilah sampah hingga sistem penimbangan di lapangan menjadi pengalaman baru bagi banyak peserta, sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan cara yang sederhana dan bermanfaat.
Dengan keterlibatan aktif masyarakat, Pilar berharap Kota Tangsel dapat menjadi contoh kota yang tidak hanya peduli lingkungan, tetapi juga berinovasi dalam mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai. “Kalau semua bergerak, maka masalah sampah ini bisa kita tangani bersama. Ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi soal masa depan kota kita,” pungkasnya. ich
