Jakarta, Channelsatu.com – Perjalanan brand lokal Foldyester kembali mengemuka sebagai salah satu kisah pertumbuhan UMKM yang paling menonjol tahun ini, terutama berkat keberanian sang pendiri, Apritzal Kurniawan, membaca peluang sejak awal dan memilih bergabung dengan Shopee sebagai rumah pertama. Langkah yang bermula dari pesan sederhana “setiap celah punya potensi” itu menjelma landasan strategi Foldyester hingga akhirnya menembus industri tas pria dan berhasil mendongkrak kinerja bisnisnya hingga tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. Kenaikan ini bukan sekadar angka, tetapi merupakan cerminan dari strategi pemasaran digital yang matang, konsistensi inovasi, dan pemahaman perilaku konsumen urban yang terus bergerak.
Pada usia 24 tahun, Apritzal mengaku berada dalam fase paling bingung menentukan arah hidup. Namun nasihat mentor yang mengajaknya memahami ritme production house tas di Bandung memantik rasa penasaran yang kemudian membawanya pada riset mengenai tren tas pria. Dari sana lahir konsep backpack lipat berbahan polyester yang menjadi cikal-bakal nama Foldyester. Narasi ini menegaskan bagaimana busana fungsional berbasis kebutuhan pengguna kini mendominasi preferensi konsumen, dan UMKM yang bergerak cepat memanfaatkannya selalu punya peluang untuk memimpin pasar.
Foldyester menapaki industri dari ruang produksi kecil tanpa studio besar dan tanpa modal besar, namun dengan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap pasar digital. Saat koleksi pertama diluncurkan di Shopee pada 2019, strategi produk berbasis desain simple, foldable, compact, dan durable langsung disesuaikan dengan karakter commuter muda, mahasiswa, pekerja kreatif, dan pengguna mobilitas tinggi. Pola ini memperlihatkan bagaimana UMKM kini tidak hanya menjual produk, tetapi mengelola storytelling sebagai fondasi diferensiasi.
Dalam upayanya menjaga relevansi, Apritzal tidak hanya berfokus pada estetika tas pria, tetapi juga menelaah pengalaman pengguna secara detail: tali yang membuat pundak sakit, titik rawan sobek, ketahanan bahan, hingga ergonomi pemakaian. Setiap keluhan pembeli di Shopee dijadikan acuan pengembangan produk bersama tim R&D kecilnya di Bandung, menggunakan material lokal seperti taslan water-repellent dan bahan ringan lain yang teruji di berbagai kondisi. Pola mendengar konsumen inilah yang memperkuat loyalitas pembeli Foldyester.
Selama berkembang, Shopee menjadi platform yang menyediakan akses dan infrastruktur pemasaran untuk mempercepat penetrasi produk Foldyester. Dengan memanfaatkan kampanye tematik, Shopee Ads, Shopee Affiliate Program, Shopee Video, hingga Shopee Live, performa penjualan brand ini melesat signifikan. Bahkan hanging pouch mereka pernah mencetak angka penjualan 300 pcs per minggu, menjadikannya best-seller hingga saat ini. Fenomena ini menandai efektivitas strategi omni-channel yang berpadu dengan narasi brand yang kuat.
Bagi Apritzal, Shopee bukan sekadar kanal transaksi, tetapi lingkungan yang memberikan rasa aman, UI/UX yang mudah, serta dukungan pengembangan UMKM yang nyata. Ia menyebut bahwa banyak inovasi jualan interaktif di Shopee sangat membantu membangun awareness konsumen secara organik, membuat brand kecil lebih mudah tampil kompetitif. Sikap ini menunjukkan bagaimana marketplace kini berperan sebagai akselerator utama pertumbuhan brand lokal.
Kini Foldyester berkembang dengan puluhan tenaga kerja lokal, menjadi bukti bagaimana bisnis yang dimulai dari mimpi kecil dan dikerjakan dengan konsisten mampu memberikan dampak bagi sekelilingnya. Bagi Apritzal, tantangan terbesar bukan kompetisi, tetapi menjaga ritme relevansi produk dan daya saing tanpa kehilangan karakter brand. Di tengah ketatnya pasar tas pria, Foldyester memilih tetap setia pada nilai: fungsional, ringan, ringkas, dan dekat dengan kebutuhan pengguna.
Memasuki tahun ketujuh perjalanannya, Foldyester menatap masa depan dengan ambisi lebih besar. Dengan dukungan Shopee sebagai platform utama, brand ini tidak hanya menjadi contoh kesuksesan UMKM, tetapi juga gambaran bagaimana anak muda Indonesia mampu memanfaatkan teknologi pemasaran digital untuk menciptakan peluang baru. Transformasi ini memperlihatkan bahwa industri kreatif lokal tidak pernah kekurangan potensi; yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk melihat celah dan masuk lebih cepat daripada yang lain. ich
