Jakarta, Channelsatu.com – Di tengah teriknya cuaca yang semakin panas dan udara yang makin sesak oleh polusi, suara seorang anak SMA asal Sulawesi Utara mendadak menjadi sorotan. Namanya Lungli Rewardny Supit, 16 tahun. Ia bukan pejabat, bukan pula aktivis kawakan, melainkan remaja yang nekat bersuara lantang: “Kami bukan stiker di ruangan rapat. Kami punya suara yang harus didengar.”
Kata-kata itu terlontar dalam forum Local Conference of Children and Youth Indonesia 2025 yang digelar Climate Rangers Indonesia (CRI). Bagi Lungli, pengalaman duduk di ruang pengambilan keputusan seringkali membuatnya merasa sekadar pelengkap. Wajah terpampang, tanda tangan tertera, namun suaranya nyaris tak pernah dianggap. “Tapi aku sadar, suara sekecil apapun tetap penting. Kalau aku diam, siapa lagi yang bicara untuk teman-temanku di kampung?” tuturnya.
Cerita Lungli ini menjadi simbol bahwa krisis iklim bukan lagi isu abstrak. Ia menyaksikan sendiri laut yang makin surut karena pembangunan pesisir, ikan yang menjauh, dan hutan yang ditebangi demi proyek wisata. Realitas itu membuatnya semakin yakin, generasinya tak bisa terus menunggu belas kasih keputusan dari orang dewasa.
Ginanjar Ariyasuta, Koordinator Climate Rangers, menegaskan bahwa orang muda bukan sekadar figuran. “Partisipasi yang bermakna berarti suara mereka dipertimbangkan sejak perencanaan hingga evaluasi. Bukan hanya hadir untuk foto atau postingan media sosial,” ujarnya.
Kehadiran Lungli di forum itu menjadi bukti nyata bahwa umur bukan penghalang untuk bersuara. Ia membawa pesan dari generasi yang akan mewarisi bumi yang kian panas. “Suara yang besar dimulai dari suara kecil. Dan aku tidak ingin suara itu hilang begitu saja,” katanya tegas.
Dengan keberanian anak-anak seperti Lungli, harapan untuk bumi yang lebih adil dan berkelanjutan tak sekadar mimpi. Mereka hadir bukan hanya untuk menuntut, tetapi juga untuk memberi arah baru pada masa depan. ich
