Kabupaten Bogor, Channelsatu.com – Di balik rilisnya lagu “Labil” yang kini ramai diperbincangkan, tersimpan kisah persahabatan yang menjadi fondasi terbentuknya *Small Band*. Yongki, Pitoy, dan Ezot tumbuh bersama di lingkungan yang sama di Bogor. Mereka berbagi mimpi, bermain musik dari masa sekolah, dan akhirnya menyatukan langkah dalam satu semangat yang sama: menyalurkan suara hati lewat lagu.
Small Band lahir bukan dari kompetisi atau tren, tetapi dari rasa ingin terus bermusik. Selama lebih dari satu dekade, mereka berlatih tanpa pamrih, menulis lagu tanpa jaminan, dan bermain musik tanpa panggung besar. Semua berawal dari kesederhanaan dan ketulusan.
Yongki mengenang masa awal pembentukan band sebagai masa paling penuh perjuangan. “Kami sering tampil di acara kecil, bahkan kadang latihan hanya untuk menghibur diri. Tapi musik selalu memanggil kami untuk terus mencoba,” ujarnya dengan senyum.
Nama *Small Band* dipilih sebagai simbol kerendahan hati dan kesederhanaan. Mereka percaya, sesuatu yang kecil bisa memberi dampak besar jika dilakukan dengan cinta dan ketulusan. Filosofi itu tercermin dalam lagu “Labil” yang menyorot emosi manusia dengan nada lembut dan lirik jujur.
Peluncuran single perdana mereka di NJayo Café Bogor menjadi momen yang menyentuh. Di hadapan keluarga, sahabat, dan para pendukung, mereka menandai babak baru perjalanan musik yang sempat tertunda.
Bagi Maudy, satu-satunya personel perempuan dalam band, perjalanan ini penuh makna. “Kami bukan sekadar grup musik, tapi keluarga. Setiap lagu adalah bagian dari cerita hidup kami,” tuturnya.
Kini, setelah 12 tahun perjalanan, Small Band siap membawa karya mereka lebih jauh. Mereka ingin menunjukkan bahwa persahabatan dan ketulusan masih bisa menjadi fondasi kuat dalam industri musik yang terus berubah.
“Kalau kita setia pada proses, hasilnya pasti datang. ‘Labil’ adalah buktinya,” ujar Pitoy sambil menatap rekan-rekannya dengan bangga.
