Jakarta, Channelsatu.com – Film “Setannya Cuan” tak hanya menawarkan hiburan ringan, tetapi juga memotret fenomena sosial yang akrab di tengah masyarakat Indonesia, yakni obsesi terhadap kekayaan instan dan angka keberuntungan. Dengan pendekatan horor-komedi, film ini mengemas kritik sosial dalam bahasa yang mudah dicerna penonton.
Produser eksekutif dr. Robby Hilman Maulana menyebut cerita film ini diadaptasi dari peristiwa nyata yang sering terjadi di masyarakat, terutama praktik kepercayaan mistis yang muncul akibat tekanan ekonomi.
Mengambil inspirasi dari mitos angka salawe atau dua puluh lima, *Setannya Cuan* menyoroti bagaimana kepercayaan terhadap simbol keberuntungan dapat berkembang menjadi obsesi yang berbahaya, bahkan menjerumuskan.
Dalam film ini, dunia gaib tidak digambarkan semata sebagai ancaman, tetapi sebagai cermin dari ambisi manusia. Humor digunakan sebagai alat untuk menertawakan ketakutan yang sejatinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Produser Avesina Soebli dan Aris Muda menegaskan bahwa film ini dirancang untuk menghidupkan kembali pengalaman menonton horor secara kolektif, di mana rasa takut dan tawa hadir bersamaan di dalam satu ruang bioskop.
Mereka ingin penonton bisa merasakan sensasi berteriak kaget, lalu tertawa lepas dalam hitungan detik, sebuah pengalaman yang kini semakin jarang ditemui di tengah tren horor yang lebih gelap dan serius.
Pendekatan tersebut juga tercermin dalam gaya penceritaan yang dekat dengan keseharian masyarakat, menjadikan “Setannya Cuan” terasa sangat lokal dan relevan.
Dengan kombinasi horor, komedi, dan kritik sosial, film ini diharapkan mampu menjangkau segmen penonton yang lebih luas, termasuk mereka yang rindu hiburan ringan namun tetap bermakna. ich
