Jakarta, Channelsatu.com – Musisi dan praktisi komunikasi Ronni Waluya menghadirkan kejutan dalam perayaan 30 tahun perjalanan kariernya di industri hiburan Tanah Air. Alih-alih menggelar konser retrospektif, mantan personel Kahitna ini memilih menandai tiga dekade kiprahnya dengan meluncurkan buku perdana berjudul *Bicara Enak*, sebuah refleksi personal tentang seni berkomunikasi yang ia bangun dari pengalaman panjang di panggung, media, dan ruang publik.
Peluncuran buku *Bicara Enak* menjadi momentum penting yang merangkum perjalanan Ronni selama 30 tahun berkarya, sekaligus menegaskan transformasinya dari musisi menjadi figur yang aktif berbagi pengetahuan komunikasi kepada berbagai kalangan, mulai dari pekerja kreatif hingga profesional lintas bidang.
Ronni mengungkapkan bahwa proses penulisan buku ini tidak instan. Ide menulis sebenarnya telah muncul sejak lima tahun lalu, namun baru benar-benar rampung setelah melewati perjalanan reflektif yang panjang. “Awalnya lima tahun lalu istri saya yang terus mengingatkan untuk menulis buku. Bahkan sempat memberi saya buku jurnal dan saya rajin menulis setiap pagi selama sebulan, tapi setelah itu lupa lagi,” ujar Ronni saat ditemui di kawasan Depok, Jawa Barat.
Ia menambahkan, dalam tiga tahun terakhir dirinya mulai fokus menyusun kembali catatan-catatan pengalaman yang selama ini terserak, hingga akhirnya dirangkai menjadi sebuah buku utuh. Proses tersebut, menurut Ronni, sekaligus menjadi ruang kontemplasi atas dinamika komunikasi yang ia alami selama berkarier di industri hiburan.
Berbeda dengan buku biografi pada umumnya, *Bicara Enak* tidak disusun sebagai catatan kronologis perjalanan hidup. Ronni memilih pendekatan berbagi pengalaman yang aplikatif, berangkat dari interaksinya dengan penonton konser, pendengar radio, pemirsa televisi, hingga peserta pelatihan komunikasi.
“Kalau orang 30 tahun berkarya biasanya bikin konser. Saya pikir ini momen saya untuk menulis semua perjalanan selama 30 tahun itu dalam sebuah buku,” ungkap Ronni. Ia menilai, buku menjadi medium yang lebih personal untuk berbagi nilai dan pengalaman yang selama ini tidak selalu bisa disampaikan di atas panggung.
Buku ini juga memuat panduan praktis bagaimana menyampaikan pesan secara efektif tanpa kehilangan empati, sebuah keterampilan yang menurut Ronni semakin relevan di tengah budaya komunikasi cepat dan serba digital.
Menurut Ronni, konsep “bicara enak” lahir dari keyakinan bahwa komunikasi yang baik mampu menciptakan suasana positif dalam berbagai aspek kehidupan. “Intinya bagaimana membuat orang merasa nyaman dan senang saat berkomunikasi dengan kita,” katanya. ich
