Jakarta, Channelsatu.com – Film Lintrik, garapan Prama Gatra Film dan Rumah Semut Film, siap menghantui layar bioskop dengan kisah horor psikologis bernuansa budaya Jawa kuno. Tidak hanya mengandalkan adegan menakutkan, film ini menyorot ritual ilmu pengasihan khas Banyuwangi yang dikenal dengan sebutan Lintrik yaitu sebuah praktik spiritual yang hanya bisa dilakukan oleh dukun wanita melalui rangkaian ritual ekstrem.
Ide awal film ini berasal saat Produser Prama Gatra Film, Asye Siregar menonton film pendek berjudul Lintrik – Janakim Series di YouTube, karya anak-anak muda Banyuwangi.
“Karena menghormati etika berkarya, kami membeli hak ceritanya dan mengajak mereka terlibat sebagai konsultan budaya selama produksi film ini,” ujar Irham Aco Bahtiar selaku sutradara. Ia juga menambahkan bahwa film ini menyorot sisi mistis dari Lintrik yang dilakukan dengan mengelilingi kuburan keramat tanpa busana oleh seorang dukun wanita.
Film yang disutradarainya ini mengambil lokasi syuting di Jakarta dan sejumlah titik budaya Banyuwangi, termasuk Hutan De Djawatan dan Festival Gandrung. Para pemain lokal pun ikut dilibatkan, seperti maestro tari Gandrung terakhir, Mak Temu Misti, serta seniman Mas Yon DD, lengkap dengan dialog berbahasa Osing, bahasa daerah asli Banyuwangi.
Selain aktor lokal, film ini juga menampilkan nama-nama besar seperti Donny Damara, Yatti Surachman, Meisya Amira, Akbar Nasdar, Fannita Posumah, Teguh Ryder dan Karina Icha. Karina berperan sebagai Sari, perempuan muda yang nekat melintrik cinta pertamanya demi kehidupan yang lebih baik.
“Saya bermain secara total, termasuk adegan telanjang yang sudah melalui sensor dan pengawasan ketat. Bahkan saat syuting adegan ranjang, tubuh saya terasa berat dan panas, seperti ada gangguan gaib. Tapi syukurlah, semua bisa saya selesaikan dengan profesional,” ungkap Karina Icha.
Tak hanya Karina, aktor muda Akbar Nasdar juga mengaku antusias bisa bergabung dalam proyek ini.
“Saya senang bisa ikut terlibat dan berkolaborasi dengan para senior, terutama Mbak Yatti Surachman. Ini pengalaman akting yang tak terlupakan, karena nuansanya sangat kuat dan berbeda,” katanya.
Proses produksi Lintrik tidak berjalan mulus. Kru mengalami gangguan misterius saat syuting di hutan. Hujan turun setiap kali kamera disiapkan, tetapi berhenti ketika sesi dihentikan. Setelah melakukan ritual khusus, gangguan cuaca mendadak itu pun menghilang, membuat pengalaman syuting menjadi makin tak terlupakan.
Dengan kekuatan cerita sebagai pusat perhatian, Lintrik bukan sekadar film horor bertabur adegan seram. Ia menyuguhkan konflik batin, cinta, dan budaya dalam satu sajian psikologis yang kuat. Film ini kini tengah menunggu slot penayangan dan diproyeksikan akan tayang di bioskop Indonesia pada 2025. ich
