Jakarta, Channelsatu.com – Jakarta memasuki penghujung 2025 dengan denyut berbeda saat Pekan Kineforum 2025 resmi dibuka sebagai bagian dari rangkaian menuju ulang tahun ke-500 Jakarta. Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Indonesian Cinematographers Society (ICS) menghadirkan program yang menyatukan tontonan, pengetahuan, dan percakapan kritis dalam satu ruang ekosistem film yang semakin tumbuh dinamis. Pembukaan berlangsung di Rubanah Underground Hub pada 23 November 2025 dengan fokus pada karya dua sutradara perempuan awal Asia: Ratna Asmara dari Indonesia dan Kinuyo Tanaka dari Jepang.
Dalam ruang basement yang temaram dan hangat, penonton menyimak film klasik Dr. Samsi (1952) dan Forever a Woman (1955) secara khidmat. Pemutaran ini dipasangkan dengan diskusi bersama Kelas Liarsip yang membedah representasi perempuan pasca-perang serta bagaimana arsip film menghubungkan lintas generasi. Banyak peserta menyebut program ini sebagai “ruang pulang” bagi sejarah sinema perempuan Indonesia, sebuah ruang yang jarang diberikan oleh lembaga arsip formal negara.
Percakapan berlangsung jauh setelah pemutaran usai, menandai kuatnya kebutuhan ruang diskursif bagi sejarah sinema perempuan. Beberapa peserta menyampaikan bahwa pengalaman menonton karya Ratna Asmara membuka kembali relasi emosional dengan sejarah film Indonesia yang kerap terpinggirkan. Menurut mereka, program pembuka ini mengembalikan identitas sinema perempuan ke pusat percakapan publik.
Kelas Liarsip menggambarkan metode pembacaan arsip yang lebih hidup dan sensitif terhadap konteks sosial. Para fasilitator menegaskan bahwa arsip bukan sekadar benda statis, melainkan jembatan yang mempertemukan memori, ruang, dan masyarakat. “Arsip film selalu punya ritme hidup. Ketika ditonton ulang, ia membangkitkan percakapan baru yang tak pernah selesai,” ujar salah satu fasilitator Kelas Liarsip.
Program pembukaan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana publik Jakarta mulai memosisikan film bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang refleksi sosial. Dengan hadirnya lintas komunitas, diskusi berkembang menjadi pertemuan gagasan tentang arsip, perempuan, dan sejarah yang menunggu dirawat bersama. Suasana ini menjadi dasar penting bagi perjalanan rangkaian Pekan Kineforum 2025.
Perwakilan Komite Film DKJ menyebut bahwa pemilihan film karya sutradara perempuan bukan sekadar kuratorial simbolik, melainkan upaya mengembalikan narasi yang pernah disisihkan. “Pekan Kineforum ingin menegaskan bahwa sejarah film adalah sejarah yang selalu bisa ditulis ulang. Kita sedang menyambungkan kembali yang patah,” ujar salah satu kurator.
Antusiasme peserta yang memenuhi Rubanah menjadi penanda bahwa ruang alternatif pemutaran film tetap relevan di Jakarta. Ketertarikan besar terhadap film klasik perempuan menunjukkan adanya kerinduan akan pembacaan ulang sejarah sinema dari perspektif yang lebih inklusif dan kritis. Melalui pembukaan yang kuat, ekosistem film Jakarta memperlihatkan kedewasaan baru dalam memahami artefak sinema.
Pekan Kineforum 2025, melalui pembukaannya, membuktikan bahwa ruang non-komersial seperti Rubanah dan program arsip memiliki peran vital dalam memulihkan memori kolektif. Penonton hadir bukan hanya untuk menonton, tetapi untuk mengembalikan sejarah ke tangan publik. Dari titik awal inilah rangkaian program lain pada Desember 2025 bergerak. ich
